PADANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait dinamika cuaca yang masih labil di wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Berdasarkan pantauan terbaru, suhu udara di Sumbar kini berada pada kisaran 21 hingga 30 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan mencapai 65 hingga 99 persen.
Kondisi kelembapan yang sangat tinggi tersebut mendukung pembentukan awan hujan secara masif. Pola cuaca harian menunjukkan kondisi cerah berawan pada pagi hari, namun berubah drastis memasuki siang hari akibat peningkatan pertumbuhan awan konvektif di sebagian besar wilayah kabupaten dan kota.
BMKG memprediksi hujan ringan hingga sedang akan mendominasi cuaca di Sumbar sejak tengah hari. Namun, terdapat potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang dalam durasi singkat. Fenomena ini diprediksi terjadi merata, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki topografi perbukitan.
Pada malam hari, intensitas hujan diperkirakan mulai menurun menjadi hujan ringan, meski kondisi langit cenderung tetap berawan tebal. Masyarakat diminta mengantisipasi perubahan cuaca yang berlangsung cepat, mengingat dinamika atmosfer di wilayah Sumbar saat ini masih cukup fluktuatif.
Perhatian khusus diberikan untuk kawasan pesisir, termasuk wilayah Kepulauan Mentawai dan Pesisir Selatan. Wilayah-wilayah ini berpotensi mengalami hujan disertai petir yang dapat mengganggu aktivitas di perairan. BMKG mengimbau para nelayan dan pengguna transportasi laut untuk lebih berhati-hati.
Risiko gelombang tinggi atau perubahan arah angin secara mendadak perlu diwaspadai oleh pelaku usaha kelautan. "Masyarakat di daerah tersebut diimbau untuk mewaspadai perubahan cuaca yang berlangsung cepat," tulis BMKG dalam keterangan resminya melalui kanal informasi cuaca awal Mei ini.
Selain potensi petir, ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir lokal dan tanah longsor menjadi risiko nyata bagi warga yang bermukim di daerah rawan. Genangan air diprediksi dapat muncul di kawasan perkotaan dengan drainase buruk, sementara longsor mengancam wilayah perbukitan dan lereng jalan lintas provinsi.
Pemerintah daerah melalui instansi terkait meminta warga untuk terus memantau informasi cuaca terkini guna meminimalkan risiko. Kewaspadaan ekstra diperlukan saat intensitas hujan meningkat secara mendadak guna menghindari dampak kerugian material maupun korban jiwa akibat bencana alam.