Pasar mobil bekas bermesin diesel mengalami kelesuan signifikan menyusul lonjakan harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang kini menyentuh angka Rp 23.900 per liter. Penurunan permintaan ini memicu koreksi harga jual di diler karena nilai efisiensi yang selama ini menjadi daya tarik utama kendaraan diesel mulai menghilang.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diesel nonsubsidi mulai memukul ekosistem pasar kendaraan roda empat bekas di Indonesia. Para pelaku usaha diler melaporkan adanya penurunan minat konsumen yang cukup tajam terhadap unit bermesin peminum solar tersebut.
Jeffrey Andika, Pendiri sekaligus CEO Otospector dan diler mobil bekas Otos.id, mengonfirmasi bahwa tren negatif ini sudah dirasakan oleh sejumlah showroom rekanan. Menurutnya, situasi ini tidak hanya menghentikan laju penjualan, tetapi juga berdampak langsung pada nilai jual kendaraan di pasar sekunder.
"Informasi dari showroom rekanan, yang pasti permintaan menurun mengakibatkan harga mobilnya anjlok," ujar Jeffrey baru-baru ini. Meskipun belum merinci persentase penurunan secara angka pasti, ia menyebut keluhan mengenai lesunya pasar diesel sudah merata di kalangan pedagang.
Lonjakan biaya operasional menjadi faktor tunggal yang mengubah peta persaingan mobil diesel. Saat ini, harga Pertamina Dex telah mencapai Rp 23.900 per liter, melonjak drastis dibandingkan periode Maret lalu yang masih berada di angka Rp 14.500 per liter.
Berikut adalah rincian harga BBM diesel terbaru di berbagai SPBU:
Kenaikan harga yang sangat signifikan ini otomatis membengkakkan biaya pengeluaran rutin pemilik kendaraan. Sebagai perbandingan, BP Ultimate Diesel sebelumnya bahkan sempat menyentuh angka Rp 30.890 per liter sebelum mengalami penurunan tipis sebesar Rp 1.000.
Selama bertahun-tahun, konsumen Indonesia memilih mobil diesel karena pertimbangan konsumsi bahan bakar yang lebih irit dan harga solar yang kompetitif. Namun, dengan kondisi harga saat ini yang melampaui Rp 23.000 hingga Rp 30.000 per liter, keunggulan tersebut dianggap tidak lagi relevan.
"Selama ini konsumen beli mobil diesel supaya irit. Kalau harga solar jadi tinggi begitu, jadi tidak ada gunanya beli mobil diesel," kata Jeffrey menjelaskan perubahan pola pikir calon pembeli di showroom.
Kondisi pasar saat ini memaksa para pelaku industri mobil bekas untuk mengevaluasi stok unit diesel mereka. Dengan biaya operasional yang membengkak, unit-unit diesel yang sebelumnya menjadi primadona kini harus menghadapi koreksi harga agar tetap kompetitif di mata konsumen yang semakin sensitif terhadap pengeluaran bahan bakar.