SUMATERA BARAT — Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. Mayoritas mata uang Asia kompak tertekan oleh dolar AS, dengan won Korea Selatan menjadi yang paling parah minus 0,74%, disusul baht Thailand minus 0,18%, dan yen Jepang minus 0,08%. Rupee India serta yuan China juga ikut melemah meski tipis.
Rupiah memulai perdagangan dengan posisi 17.681 per dolar AS, melemah 13 poin dari penutupan sebelumnya. Dalam dua jam pertama perdagangan, tekanan jual terhadap rupiah terus berlanjut hingga menembus level 17.700. Angka ini memecahkan rekor terburuk sebelumnya dan menjadi titik terendah yang pernah tercatat dalam sejarah nilai tukar rupiah.
"Pelaku pasar masih mencermati kondisi domestik yang dinilai lemah," ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial. Ia menambahkan bahwa investor saat ini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan. Ekspektasi kenaikan bunga ini membuat pelaku pasar cenderung wait and see dalam mengambil posisi.
Di sisi lain, ada sedikit angin segar dari geopolitik global. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran, yang meredakan kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, sentimen ini belum cukup kuat untuk membalikkan arah pelemahan rupiah.
Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat meski terbatas. Ia memproyeksikan rentang pergerakan mata uang Garuda hari ini berada di level Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS. "Pelaku pasar tetap berhati-hati, terutama menanti keputusan BI," katanya.
Fokus utama pasar kini tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan menjadi satu-satunya amunisi yang bisa digunakan otoritas moneter untuk menahan laju pelemahan rupiah. Jika BI benar-benar menaikkan bunga, rupiah berpotensi mendapatkan momentum penguatan jangka pendek. Sebaliknya, jika BI mempertahankan suku bunga, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global dan kebijakan domestik.