Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan komunikasi dengan pihak terkait masih berjalan positif. "Masih positif," ujarnya di Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026). Namun, hingga kini kedua kapal belum juga mendapatkan izin melintasi jalur strategis tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz bermula saat Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Jumat (17/4/2026), menyatakan jalur itu terbuka penuh bagi kapal komersial selama masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS). Namun, hanya beberapa jam kemudian, Iran berbalik arah. Mereka kembali memperketat pengawasan dengan alasan AS terus melanggar komitmen melalui blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping Vega Pita menegaskan, pihaknya terus memonitor situasi yang sangat dinamis. "Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz," katanya dalam pernyataan tertulis, Minggu (19/4/2026).
Vega menjelaskan, PIS terus berkoordinasi intensif dengan kementerian dan otoritas berwenang. Perusahaan juga menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) alternatif yang aman. "Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya," tegas Vega. Ia berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik agar kedua kapal bisa melanjutkan pelayaran.
Meski situasi genting, data dari perusahaan analitik pelayaran Kpler mencatat lebih dari 20 kapal melintasi Selat Hormuz pada Sabtu pekan lalu. Jumlah ini menjadi yang terbanyak sejak 1 Maret 2026. Dari jumlah tersebut, lima kapal terakhir memuat kargo dari Iran, mulai dari produk minyak hingga logam.
Menariknya, tiga kapal pengangkut LPG di antaranya menuju China dan India. Satu kapal tanker berbendera Panama, Crave, yang membawa LPG dari Uni Emirat Arab, sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Sementara itu, kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Liberia, Fpmc C Lord, membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi menuju Taiwan.
Lalu lintas yang tetap padat ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketegangan, jalur perdagangan energi global belum sepenuhnya lumpuh. Namun, bagi Pertamina, ketidakpastian ini menjadi tantangan serius dalam menjaga pasokan energi nasional.