Pesisir Selatan Segera Miliki Rumah Sakit Penyu Pertama di Sumatera Barat, Ditargetkan Rampung Juni 2026

Penulis: Fadhli Usman  •  Rabu, 20 Mei 2026 | 17:18:52 WIB
Rumah Sakit Penyu pertama di Sumatera Barat akan dibangun di Nagari Amping Parak, Pesisir Selatan.

PESISIR SELATAN — Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) mendorong pembangunan Rumah Sakit Penyu di Nagari Amping Parak, Kecamatan Sutera, sebagai pusat konservasi dan rehabilitasi satwa laut. Fasilitas ini menjadi yang pertama di Sumatera Barat yang secara khusus menangani penyelamatan penyu yang terluka akibat aktivitas di laut maupun yang terdampar di pantai.

Ketua Laskar Konservasi Penyu Amping Parak, Haridman, mengatakan dukungan Yayasan Kehati menjadi langkah besar bagi penguatan konservasi penyu di wilayah tersebut. Selama ini kelompok konservasi kerap menerima laporan dari masyarakat pesisir tentang penyu yang terjerat pukat nelayan hingga tidak mampu berenang kembali ke laut.

“Yayasan Kehati saat ini mendorong pengembangan pembangunan Rumah Sakit Penyu di Amping Parak. Ini menjadi langkah besar bagi konservasi penyu di Sumatera Barat,” ujar Haridman, Senin (18/5/2026).

Fasilitas Lengkap untuk Penanganan Cepat

Menurut Haridman, keberadaan rumah sakit penyu sangat mendesak. Masyarakat di sepanjang pesisir Pesisir Selatan aktif melaporkan kondisi penyu yang membutuhkan penanganan cepat.

“Ya, banyak masyarakat di sepanjang pesisir pantai Pesisir Selatan yang mengadu kepada kami terkait penyu yang terdampar atau terjaring pukat sehingga tidak bisa lagi berenang,” katanya.

Dengan hadirnya fasilitas dan peralatan memadai, proses penyelamatan satwa dilindungi itu diharapkan lebih optimal. “Sekarang dengan adanya rumah sakit penyu ini, penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih baik,” tambah Haridman.

Kawasan Konservasi Juga Dikembangkan Jadi Taman Kehati

Tidak hanya fokus pada penyelamatan penyu, kawasan konservasi berbasis Kehati itu juga diarahkan menjadi pusat pelestarian keanekaragaman hayati daerah. Area tersebut nantinya akan dikembangkan menjadi taman Kehati yang memiliki fungsi konservasi sekaligus edukasi lingkungan.

Haridman menjelaskan, konsep taman Kehati merupakan kawasan pencadangan sumber daya alam hayati lokal di luar kawasan hutan. Area itu akan dimanfaatkan sebagai lokasi koleksi tanaman lokal, tanaman endemik, hingga berbagai jenis tanaman langka khas daerah.

Untuk mendukung pengembangannya, diperlukan dukungan pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan lahan minimal 30 hektare. Kawasan tersebut nantinya akan ditanami beragam jenis tanaman khas daerah, termasuk mangrove dan tanaman buah lokal.

“Lahan itu nantinya akan menjadi kawasan pelestarian keanekaragaman hayati sekaligus kawasan edukasi dan wisata,” ucapnya.

Pelatihan Pengelolaan hingga Sumber Pendanaan

Dalam proses pengembangannya, Yayasan Kehati tidak hanya membantu dari sisi perencanaan pembangunan. Lembaga tersebut juga mendukung pelatihan pengelolaan konservasi serta membantu mencarikan sumber pendanaan guna memperkuat keberlanjutan program.

Sebelum pembangunan dimulai, Yayasan Kehati juga akan melakukan survei serta pemetaan potensi kawasan konservasi. Tahapan itu mencakup pendataan berbagai jenis tanaman lokal yang nantinya akan dikembangkan di area taman Kehati.

Destinasi Wisata Edukatif Berbasis Lingkungan

Haridman menuturkan, kawasan konservasi tersebut nantinya diharapkan menjadi ruang edukasi lingkungan yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun wisatawan untuk mengenal lebih dekat ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati daerah.

“Orang bisa datang untuk belajar tentang tanaman lokal, mangrove, dan keanekaragaman hayati tanpa harus masuk jauh ke kawasan hutan,” katanya.

Selain menjadi pusat edukasi, kawasan konservasi itu juga diproyeksikan berkembang sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan di Pesisir Selatan. Kehadiran kawasan wisata edukatif tersebut diharapkan mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir dan habitat penyu.

Menurut Haridman, keberhasilan pengembangan taman Kehati dan rumah sakit penyu tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan masyarakat sekitar. Sosialisasi dan edukasi kepada warga akan terus dilakukan agar kawasan konservasi tersebut dapat dijaga bersama.

“Karena itu sosialisasi kepada masyarakat harus terus dilakukan agar semua ikut menjaga kawasan konservasi ini,” tuturnya.

Ia berharap pembangunan Rumah Sakit Penyu di Amping Parak dapat segera rampung sehingga fasilitas tersebut bisa langsung dimanfaatkan. “Mudah-mudahan bulan Juni nanti pembangunan rumah sakit penyu ini sudah selesai,” pungkasnya.

Reporter: Fadhli Usman
Sumber: sumbardaily.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top