SUMATERA BARAT — Kekalahan dari PSM Makassar, Semen Padang, Persib, dan Arema FC—di mana Persija dominan dalam penguasaan bola namun gagal mencetak gol—memicu pertanyaan publik. Apakah gaya bermain agresif ala Mauricio Souza sudah mulai diantisipasi lawan? Jawaban pelatih asal Brasil itu tegas: tidak.
Mauricio Souza merujuk pada data statistik global yang diakuinya sebagai tolok ukur objektif. “Kami adalah tim yang paling banyak menembak ke arah gawang lawan. Kami juga tim dengan expected goals tertinggi,” ujarnya, Selasa (10/9).
Ia menegaskan bahwa timnya mencatatkan jumlah shots on goal terbanyak di kompetisi. “Ini bukan kata-kata saya, ini data dari aplikasi penyedia jasa statistik di seluruh dunia,” tegas pelatih berusia 38 tahun itu.
Menurut Mauricio, tim yang mampu menciptakan lebih banyak peluang dan memiliki xG tertinggi adalah indikasi bahwa sistem permainan berjalan baik. “Karena itu, saya tidak setuju jika dikatakan lawan mudah membaca permainan kami,” tuturnya.
Data statistik memang mendukung klaim Mauricio. Persija tercatat sebagai tim paling produktif ketiga dengan torehan 65 gol, hanya di bawah Malut United (68) dan Borneo FC (74). Dominasi penguasaan bola di hampir setiap laga menjadi identitas permainan mereka yang agresif.
Namun, pelatih asal Brasil itu mengakui bahwa statistik harus berjalan seiring hasil akhir. “Saya tidak mau mencari alasan, tapi tim saya harus bermain sesuai apa yang dilatih. Dalam 90 persen pertandingan, kami bermain seperti yang kami latih,” katanya.
Mauricio menyoroti aspek yang masih bisa dikontrol timnya. “Kami memang tidak bisa mengontrol hasil akhir, tetapi kami bisa mengontrol performa di lapangan,” ujarnya. Ia menilai, kegagalan memecah kebuntuan di beberapa laga bukan karena pola permainan terbaca, melainkan penyelesaian akhir yang kurang maksimal.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Persija tidak akan mengubah pendekatan bermain. Mauricio tetap percaya pada filosofi sepak bola menekan dan dominan, sembari berharap konversi peluang menjadi gol semakin membaik di sisa musim.