LIMA PULUH KOTA — Situs Menhir Bawah Parit di Jorong Kototinggi, Nagari Maek, bukan sekadar tumpukan batu. Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, saat meninjau lokasi, menegaskan bahwa kompleks ini adalah warisan peradaban yang menunjukkan masyarakat Maek masa lampau telah memiliki sistem sosial dan budaya yang maju.
"Ini membuktikan bahwa masyarakat di Maek sejak ribuan tahun sebelum masehi sudah memiliki budaya. Mereka hidup berkelompok, memiliki pandam pekuburan, serta ukiran-ukiran pada menhir yang menunjukkan adanya peradaban," ujar Mahyeldi.
Luas kawasan situs mencapai 6.000 meter persegi dengan 370 menhir tersebar di dalamnya. Sebagian batu masih berdiri tegak, sementara lainnya telah rebah dengan orientasi menghadap tenggara ke arah Gunung Sago.
Mahyeldi menyebut Nagari Maek sebagai "negeri seribu menhir" karena konsentrasi batu tegak di daerah ini merupakan yang terbanyak di Sumatera Barat. "Kita hadir langsung di Nagari Maek karena ini adalah negeri seribu menhir. Menhir yang berkelompok seperti ini hanya ada di Nagari Maek, Kabupaten Limapuluh Kota," katanya.
Selain jumlahnya yang masif, tim peneliti menemukan lima menhir berhias di kawasan tersebut. Ukirannya memuat motif tumpal, pucuk rebung, kaluak paku, geometris, hingga siriah gadang — seluruhnya merupakan simbol budaya khas Minangkabau.
Keberadaan ragam hias ini memperkuat dugaan bahwa masyarakat Maek kuno telah memiliki tradisi seni dan kepercayaan yang kompleks. Mahyeldi menekankan pentingnya penelitian ilmiah untuk mengungkap nilai sejarah dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya.
Perhatian terhadap situs Maek tidak hanya datang dari dalam negeri. Mahyeldi mengungkapkan bahwa Rais Yatim, tokoh asal Malaysia, telah berdiskusi dengannya mengenai situs ini. "Beliau sangat tertarik karena tulisan-tulisan dan ukiran pada menhir ini merupakan sesuatu yang harus dibaca dan diteliti lebih dalam," ungkapnya.
Pada Oktober mendatang, peneliti dari Australia direncanakan akan melakukan kajian lebih lanjut di lokasi. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mendorong kolaborasi para ahli dari berbagai negara untuk mengungkap lebih jauh misteri peradaban di balik ribuan batu tegak Maek.