PADANG — Panggung Gedung Rohana Kudus di kawasan GOR H Agus Salim, Padang, menjadi saksi kemeriahan puncak Festival Sipakrago se-Sumbar 2026. Ajang yang memperebutkan Piala Evi Yandri Rj Budiman (ERB) Cup ini resmi ditutup oleh Wakil Ketua DPRD Sumbar, Evi Yandri Rj Budiman, Minggu malam (12/7/2026).
Tim Sipakrago Jeluju berhasil merebut tropi bergilir setelah menyisihkan 27 tim lainnya. Selain juara pertama, hadiah uang tunai total Rp29,5 juta dibagikan kepada enam tim teratas.
Festival ini terselenggara berkat alokasi anggaran Pokir (Pokok Pikiran) milik Evi Yandri Rj Budiman. Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar yang diwakili Kepala Museum Adityawarman, Tuti Alawiyah, menyebut kegiatan ini lebih dari sekadar kompetisi.
“Kegiatan ini bukan hanya bertujuan untuk mencari siapa pemenangnya, akan tetapi bagaimana permainan tradisi ini tetap lestari berkembang di Sumbar,” ujar Tuti dalam sambutannya.
Ia juga mendorong agar festival ini menjadi kalender tetap tahunan. Sebab, rangkaian lomba Sipakrago sudah berjalan dari level kecamatan hingga kabupaten/kota se-Sumbar.
Ketua Pembina Sipakrago, Nasrul Mansyur SH, mengapresiasi kerja keras peserta dan dewan juri selama dua hari penyelenggaraan. Ia menekankan tujuan utama festival adalah keberlanjutan permainan tradisi Minangkabau.
“Semua itu memang tak terlepas bagaimana kegiatan Festival Sipakrago ini berjalan lancar dan sukses, dengan sasaran bagaimana permainan tradisi ini tetap lestari pada masa mendatang,” ucap Nasrul.
Nasrul berharap ke depan, festival ini tidak hanya digelar di Kota Padang. Ia mendorong agar kabupaten dan kota lain di Sumbar turut menjadi tuan rumah, sehingga Sipakrago makin meluas.
Di puncak acara, Evi Yandri Rj Budiman secara langsung menyerahkan tropi bergilir kepada kapten Tim Sipakrago Jeluju. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan juri yang telah bertugas.
“Kemudian mengucapkan apresiasi sekaligus terima kasih terhadap pemuncak Festival Sipakrago tahun 2026 ini, selamat berjumpa pada tahun depan,” kata Evi Yandri.
Penutupan festival ini menjadi penanda bahwa permainan tradisional anak nagari masih memiliki tempat di tengah gempuran budaya modern. Dengan anggaran dari pokir dan dukungan pemerintah daerah, Sipakrago diharapkan terus hidup di setiap nagari di Sumatera Barat.