Jembatan Putus 1,5 Bulan Akibat Banjir Bandang, Pemprov Sumbar Kembalikan Akses Tanahdatar-Sijunjung dengan Jembatan Bailey Rp 4,9 Miliar

Penulis: Muzakir Salim  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 21:22:01 WIB
Jembatan Bailey sepanjang 30 meter di perbatasan Tanahdatar-Sijunjung mulai berfungsi menggantikan akses yang putus akibat banjir bandang pada 21 Mei 2026.

PADANG — Jembatan Bailey sepanjang 30 meter kini berdiri di perbatasan Tanahdatar dan Sijunjung, menggantikan akses yang hilang sejak banjir bandang 21 Mei 2026. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelontorkan anggaran Rp 4,9 miliar dari dana Transfer ke Daerah (TKD) untuk pembangunannya.

Warga Terisolasi, Ekonomi Lumpuh Selama 1,5 Bulan

Putusnya jembatan permanen membuat warga di dua kabupaten itu kehilangan akses utama. Selama 45 hari, pelajar, petani, dan pelaku UMKM terpaksa memutar melalui jalur Kumani-Tanjung Bonai Aua-Koto Panjang-Tigo Jangko-Pangian Lintau. Perjalanan yang biasanya hanya beberapa menit membengkak menjadi satu jam dengan jarak tempuh 19 hingga 20 kilometer.

Distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok macet. Banyak pelaku UMKM menutup usahanya karena tak ada aktivitas ekonomi. Pelajar asal Sijunjung yang bersekolah di Tanahdatar harus merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos transportasi.

Pembangunan Jembatan Bailey: Pondasi Lebih Lama dari Perakitan

Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, mengatakan pengerjaan tapak atau abutmen jembatan menjadi bagian paling krusial. "Pembuatan pondasi tersebut menghabiskan anggaran sekitar Rp 800 juta dan dikerjakan secara swakelola, sedangkan konstruksi jembatan Bailey menelan anggaran sekitar Rp 4 miliar," ujarnya, Selasa (28/7).

Perakitan jembatan dimulai 6 Juli dan hanya butuh tiga hari. Pada 9 Juli, jembatan sudah bisa dilalui masyarakat. Mitra menambahkan, jembatan Bailey ini bersifat sementara sembari menunggu pembangunan jembatan permanen yang diperkirakan membutuhkan anggaran Rp 25 miliar. Meski begitu, jembatan Bailey mampu menahan beban kendaraan hingga 25 sampai 30 ton dan bisa digunakan bertahun-tahun.

Arus Kendaraan Kembali Ramai, Warga Buka Usaha Lagi

Kini bus penumpang, truk ekspedisi, truk pengangkut karet, hingga kendaraan roda dua silih berganti melintasi jembatan Bailey. Pelajar kembali menggunakan jalur ini saat pulang sekolah.

Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, mengungkapkan bahwa sebagian besar warga menggantungkan hidup dari perkebunan karet dan peternakan ayam petelur. "Selama akses terputus, perekonomian masyarakat lumpuh total. Sekarang setelah jembatan Bailey dibangun, masyarakat mulai kembali membuka usahanya," katanya.

Apresiasi Warga: "Sudah Ada Lagi Uang yang Berputar"

Rela Islamiah (26), pemilik warung di sekitar lokasi, mengaku bisa kembali berjualan. "Alhamdulillah, sekarang sudah ada lagi uang yang berputar setiap hari dari hasil jualan kami," ujarnya.

Hal senada disampaikan Hajah Id (60), pemilik rumah makan Elok Basamo di Lintau Buo. Ia bersyukur akses kembali normal sehingga pembeli mulai berdatangan. Warga menilai respons cepat Gubernur Mahyeldi Ansharullah dan Wagub Vasko Ruseimy dalam menindaklanjuti pembangunan jembatan ini patut dihargai.

Reporter: Muzakir Salim
Sumber: metrokini.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top