LUBUK BASUNG — Proses pemulangan Ayu Elsih (32), warga Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, yang diduga menjadi korban penyekapan dan eksploitasi oleh sindikat penipuan daring di Myawaddy, Myanmar, memasuki babak baru. Informasi terbaru yang diterima Pemkab Agam, korban telah berhasil dibebaskan dan kini tengah menjalani pendampingan di kantor BP2MI Batam, Kepulauan Riau.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Agam, Bambang Warsito, mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi lintas sektoral bersama TNI, Polri, BP2MI, Imigrasi, dan Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) sejak informasi mengenai kondisi korban mencuat di media sosial. Langkah ini menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan kepada warganya.
"Kita melakukan koordinasi lintas sektoral sejak informasi mengenai kondisi korban mencuat di media sosial," katanya di Lubuk Basung, Kamis.
Berdasarkan informasi yang diterima melalui koordinasi Dinas Perindustrian Perdagangan dan Ketenagakerjaan (Disperindag dan Naker) Agam dengan BP2MI, Ayu Elsih telah berhasil dibebaskan. Saat ini, ia berada di bawah pendampingan BP2MI di Batam dan kondisi fisik serta mentalnya masih membutuhkan waktu untuk pulih setelah mengalami peristiwa tersebut.
"Informasi terakhir yang kami terima, saudari Ayu sudah berhasil dibebaskan dan saat ini berada di BP2MI Batam. Pemkab Agam bersama TNI, Polri, dan seluruh pihak terkait terus melakukan koordinasi agar proses pemulangan ke kampung halaman dapat berjalan dengan baik," ujar dia.
Pemkab Agam masih menunggu kepastian dari pihak keluarga mengenai siapa yang akan berangkat menjemput Ayu ke Batam. Koordinasi juga dilakukan bersama Bhabinkamtibmas Polres Agam guna memfasilitasi keluarga yang akan berangkat menjemput korban.
"Untuk itu, seluruh proses pemulangan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi psikologis dan kesehatan korban," katanya.
Menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial, Bambang mengimbau masyarakat agar tidak mudah berspekulasi dan memberikan ruang bagi korban untuk menjalani proses pemulihan. Proses pemulangan korban ke Nagari Garagahan diupayakan berjalan lancar tanpa tekanan, dengan mengedepankan aspek kemanusiaan dan pemulihan trauma.