SUMATERA BARAT — Direktur PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Alastair Gordon Christopher Mcleod melepas 185.200 saham perseroan senilai Rp 2,47 miliar pada 21 September 2026, tepat saat proses akuisisi 30% saham oleh Haji Isam bergulir. Penjualan ini menambah daftar manuver di emiten batu bara milik Low Tuck Kwong yang tengah jadi sorotan pasar. Saham BYAN sendiri ditutup anjlok 9,71% ke Rp 11.850 pada perdagangan berikutnya.
Paragraf pembuka: Alastair menjual sahamnya di harga Rp 13.352 per lembar. Sebelum transaksi, ia menggenggam 4 juta saham BYAN atau setara 0,01% dari total modal ditempatkan. Setelah pelepasan, kepemilikannya menyusut menjadi 3.814.800 saham. "Transaksi dilakukan atas kepemilikan saham langsung," demikian tertulis dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (22/9).
Penjualan ini bukan peristiwa tunggal. Pasar sedang mencermati langkah pengusaha Andi Syamsudin Arsyad alias Haji Isam yang berniat mengakuisisi 30% atau 10 miliar saham BYAN. Di saat bersamaan, pemerintah menambah kuota produksi tambang batu bara BYAN hingga 20 juta ton, keputusan yang datang setelah tiga anak usaha emiten itu menyatakan force majeure.
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal, menghitung nilai akuisisi 30% saham BYAN berdasarkan harga rata-rata 90 hari terakhir mencapai sekitar Rp 126,4 triliun atau US$ 7 miliar. Sementara jika mengacu harga transaksi yang sebelumnya beredar, yakni US$ 3 miliar untuk seluruh 62,25% saham dan diprorata ke porsi 30%, nilainya hanya sekitar Rp 25,4 triliun atau US$ 1,4 miliar.
Artinya, ada selisih sekitar 80% antara dua basis perhitungan tersebut. "Gap ini sempat narik perhatian pasar, karena si harga transaksi yang sebelum ada MoU ambil 30% (bila benar) jauh di bawah semua basis harga pasar, termasuk harga penutupan sehari sebelum pengumuman resmi," kata Fauzan kepada Katadata, Senin (21/9).
Saham BYAN sempat melonjak sekitar 35%, dari Rp 10.200 pada 15 September menjadi Rp 13.825 pada 18 September. Pola serupa terjadi pada 18 Agustus ketika saham BYAN menyentuh Rp 17.275 atau naik 43,66% dalam sepekan, sebelum anjlok 14,9% ke Rp 14.700 setelah manajemen menepis rumor yang beredar.
Fauzan mengingatkan pelaku pasar mencermati pola pergerakan cepat berbalik atau whipsaw tersebut. Momentum yang terbentuk dari rumor, menurut dia, secara historis bisa berbalik dalam hitungan hari. Pemberitaan soal BYAN juga beberapa kali muncul seiring kabar dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Moody's pada 18 September memangkas outlook BYAN menjadi negatif, sementara peringkat Corporate Family Rating (CFR) tetap di level Ba1. Perubahan itu menyusul pernyataan force majeure BYAN pada 14 September terkait RKAB 2026 yang belum disetujui untuk tiga anak usahanya.
"Kalau tidak ada