25 Pelajar Sumbar Ikuti Workshop Keramik di Taman Budaya, dari Tanah Liat Jadi Mug dan Piring Bernilai Jual

Penulis: Fadhli Usman  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 07:59:32 WIB
pelajar dari berbagai daerah di Sumbar mengikuti workshop kriya keramik di Taman Budaya Sumbar, 5-7 Oktober 2026.

Taman Budaya Sumatera Barat menggelar workshop kriya keramik pada 5-7 Oktober 2026 yang diikuti 25 pelajar terpilih dari berbagai daerah di Sumbar. Kegiatan ini menyasar pengolahan tanah liat menjadi produk fungsional seperti mug, piring, dan tatakan yang berpeluang dijual. Workshop menjadi rangkaian lanjutan program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya yang sejak awal tahun sudah menggelar lima pelatihan serupa.

PADANG — Kepala Seksi Produk dan Kreasi Seni Budaya Taman Budaya Sumbar, Ade Efdira, menyatakan workshop kriya keramik digelar untuk mengenalkan proses pembuatan keramik sekaligus mengasah kreativitas pelajar. Peserta yang lolos seleksi pendaftaran terbuka itu dilatih langsung oleh dua praktisi berpengalaman.

Mereka adalah Rahmat Hafiz Fauzi, praktisi keramik lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung yang memiliki studio keramik, dan Wisnu Prastawa, dosen keramik Institut Seni Indonesia Padangpanjang.

Workshop dimoderatori Nessya Fitryona, dosen Seni Rupa Universitas Negeri Padang.

Lima Workshop Seni Sudah Digelar Sebelum Keramik

Pelatihan keramik bukan program tunggal. Ade menyebut kegiatan ini merupakan bagian lanjutan dari pembinaan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya yang dijalankan Taman Budaya Sumbar.

"Pada awal tahun kami sudah melaksanakan lima workshop yang mencakup teater, tari, musik, film, dan sastra. Sekarang dilanjutkan dengan workshop seni rupa kriya, khususnya keramik," ujarnya.

Peserta berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Sumbar. Seleksi dilakukan berdasarkan pengalaman maupun ketertarikan terhadap seni rupa, terutama bidang kriya dan keramik.

Mug hingga Tatakan, Targetnya Produk yang Bisa Dijual

Ade menegaskan workshop tidak berhenti pada menghasilkan karya untuk dipamerkan. Peserta dibekali kemampuan membuat produk keramik yang bisa dimanfaatkan sehari-hari dan memiliki nilai ekonomi.

"Melalui tema mengubah tanah liat menjadi karya seni fungsional, kami ingin peserta tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga membuat produk keramik yang bisa dijual dan dimanfaatkan, misalnya untuk kebutuhan kafe seperti mug, piring, dan tatakan," kata dia.

Pengembangan produk fungsional itu diharapkan membuka peluang penghasilan tambahan bagi seniman. Menurut Ade, kesejahteraan pelaku seni ikut terdorong ketika karya kriya punya pasar.

"Kami ingin peserta melihat bahwa karya kriya juga bisa dikembangkan menjadi produk yang memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kreativitas yang mereka miliki dapat menjadi salah satu sumber pendapatan sekaligus mendukung keberlanjutan aktivitas berkesenian," ujarnya.

Peserta dari Pasaman Ingin Bangun Studio dan Buka Kelas

Wita, peserta asal Kabupaten Pasaman, mengetahui pendaftaran workshop melalui Instagram. Ketertarikannya pada keramik tumbuh dari kebiasaan melihat koleksi museum.

"Saya suka sekali dengan koleksi keramik. Setiap ke museum, koleksi yang pertama saya lihat biasanya keramik. Namun, sebelumnya saya belum pernah melihat langsung proses pembuatannya," kata dia.

Workshop ini menjadi pengalaman pertamanya menyentuh tanah liat dan mempelajari teknik pembuatan keramik secara langsung. Minatnya pun berkembang lebih serius.

"Sebelumnya saya belum pernah mencoba membuat keramik secara langsung. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi lebih tertarik untuk mendalami proses pembuatannya dan ingin terus belajar agar kemampuan yang saya miliki bisa berkembang," ujarnya.

Ke depan, Wita tidak sekadar ingin menjual produk keramik. Ia berencana membangun studio dan membuka kelas bagi warga yang ingin belajar.

"Orang sekarang tidak hanya tertarik membeli produk, tetapi juga proses dan cerita di balik pembuatannya. Karena itu, saya lebih tertarik membangun studio dan membuat kelas. Kegiatan seperti ini juga bisa dikembangkan sebagai media art therapy," kata dia.

Program pembinaan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya di Taman Budaya Sumbar berlanjut setelah workshop keramik. Belum ada keterangan resmi soal jadwal pelatihan berikutnya.

Reporter: Fadhli Usman
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top