Kemenko IPK Uji Coba Koridor Logistik Truk Listrik Tanjung Priok-Cikarang

Penulis: Muzakir Salim  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 13:18:01 WIB
Truk listrik berbobot 100 ton diuji coba pada koridor logistik Tanjung Priok-Cikarang.

SUMATERA BARAT — Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) menuntaskan uji coba koridor logistik hijau rute Tanjung Priok-Cikarang menggunakan truk listrik berbobot 100 ton. Uji coba itu jadi dasar penyusunan peta jalan green freight corridor yang akan dikawal ketat sepanjang 2026-2027 sebelum ekspansi jaringan ke Jawa Tengah.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK Nazib Faizal menyatakan rute pelabuhan ke pusat industri itu dipilih karena hasil riset dan pengembangan bersama sejumlah pihak, termasuk ViriyaENB, WRI Indonesia, dan Drive Electric Indonesia. Pemerintah juga menjajaki skema fleet as a service untuk operasional truk listrik rute Tangerang-Bandung.

Rute Tanjung Priok-Cikarang Jadi Dasar Peta Jalan Koridor Hijau

Nazib menyampaikan hal itu dalam sesi diskusi acara Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (7/10). Menurut dia, koridor Tanjung Priok-Cikarang sudah melalui tahap penelitian dan pengujian sebelum ditetapkan sebagai basis pengembangan.

"Koridor yang sudah disampaikan oleh teman-teman yang sudah meneliti dan melakukan R&D ada Tanjung Priok-Cikarang," ujar Nazib.

Kemenko IPK akan mengawal pengembangan koridor hijau ini sepanjang 2026-2027. Setelah periode itu, pemerintah berencana memperluas jaringan ke arah timur, dengan Kit Batang di Jawa Tengah atau Semarang sebagai kandidat utama pada 2028-2029.

Tiga Kendala Utama yang Masih Menghambat Adopsi Truk Listrik

Sejumlah persoalan teknis dan komersial masih membayangi rencana elektrifikasi angkutan barang. Nazib memerinci kendala yang dihadapi pelaku industri saat ini.

  • Sekitar setengah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang beroperasi masih berdaya rendah 22 kilowatt (kW) atau dibangun untuk mobil penumpang.
  • Belum ada SPKLU yang dirancang khusus untuk truk listrik.
  • Harga unit truk listrik masih 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan truk konvensional.
  • Ada ketidaksesuaian antara tenor pembiayaan, misalnya 5 tahun, dengan estimasi umur baterai yang mencapai 8 tahun.

Data yang dipaparkan Nazib menunjukkan 75 persen pengguna mobil listrik saat ini mengandalkan pengisian daya di rumah (home charging). Pola itu tidak bisa direplikasi untuk truk logistik yang beroperasi jarak jauh dan butuh pengisian cepat di tengah rute.

Pemerintah Dorong Inovasi Pembiayaan, Bukan Subsidi

Nazib menegaskan pelaku industri tidak perlu selalu menggantungkan penyelesaian persoalan harga dan pembiayaan pada insentif negara. Menurut dia, ada ruang untuk skema pembiayaan baru yang lebih menarik.

"Jangan sedikit-sedikit kita minta subsidi ke pemerintah. Kita harus cari inovasi financing yang lebih baru, yang lebih menarik," ujar Nazib.

Untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur, Kemenko IPK menyoroti pentingnya percepatan pembangunan SPKLU lintas kota dan di area depo loading-unloading angkutan barang. Pemerintah juga membutuhkan pemetaan data rute dari perusahaan logistik agar penempatan titik SPKLU truk bisa dieksekusi secara optimal.

Ekspansi Jaringan Ditargetkan Mulai 2028

Setelah periode pengawalan 2026-2027, pemerintah membuka opsi perluasan koridor hijau ke Jawa Tengah. Nazib menyebut Kit Batang atau Semarang sebagai kandidat lokasi ekspansi pada 2028-2029.

"2028-2029 kita coba ekspansi misalnya sampai Kit Batang di Jawa Tengah atau sampai Semarang. Nanti kita lihat seperti apa perkembangannya. Kemudian 2030 juga mudah-mudahan makin bertambah nanti network-nya," ujar Nazib.

Bagi pelaku usaha logistik, kelayakan ekonomi koridor hijau ini akan bergantung pada tiga hal: ketersediaan SPKLU berdaya tinggi di sepanjang rute, skema pembiayaan yang cocok dengan umur baterai, dan kepastian volume muatan agar utilisasi armada listrik tetap tinggi.

Reporter: Muzakir Salim
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top