Kualitas udara di Padang, Sumatera Barat, terpantau tidak sehat pada Jumat 9 Oktober 2026 pagi dengan indeks kualitas udara (AQI) 152 dan polutan utama PM2.5. Konsentrasi partikel halus itu tercatat 11 kali lipat nilai panduan tahunan WHO, berdasarkan pantauan Stasiun Pemantau Kualitas Udara Antara Sumatera Barat pukul 07.00 WIB.
PADANG — Stasiun Pemantau Kualitas Udara Antara Sumatera Barat mencatat indeks kualitas udara Padang menyentuh 152 pada Jumat 9 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB. Angka itu menempatkan udara Kota Padang dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif maupun masyarakat umum. Polutan utama yang teridentifikasi adalah PM2.5, partikel padat atau tetesan cairan halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Sebagai gambaran, ukuran partikel itu sekitar 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia. Konsentrasi PM2.5 di Padang saat ini mencapai 11 kali nilai panduan PM2.5 tahunan WHO.
Ukuran PM2.5 yang sangat kecil membuat partikel ini tidak bisa tersaring oleh bulu hidung. Partikel tersebut dapat langsung masuk ke paru-paru hingga meresap ke aliran darah. Kondisi inilah yang menjadikan PM2.5 sebagai polutan utama paling berbahaya bagi kesehatan pernapasan dan kardiovaskular.
Warga yang beraktivitas di luar ruangan disarankan memakai masker jenis N95 atau KN95. Masker kain maupun masker medis biasa dinilai kurang efektif menyaring partikel mikroskopis ini.
Selain memakai masker, warga diminta menghindari olahraga di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Menutup jendela rumah juga disarankan untuk mengurangi paparan partikel halus yang masuk ke dalam ruangan.
Pada waktu pemantauan yang sama, suhu udara Padang tercatat 26 derajat celsius dengan kelembapan 85 persen. Kombinasi kelembapan tinggi dan konsentrasi PM2.5 yang melampaui ambang batas memperbesar risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat penyakit paru.
Pemantauan kualitas udara di Padang dilakukan secara berkala oleh Stasiun Pemantau Kualitas Udara Antara Sumatera Barat. Data indeks kualitas udara dan konsentrasi polutan menjadi acuan warga untuk menyesuaikan aktivitas luar ruangan.