RI Targetkan Ekspor Nikel Olahan Tembus USD45 Miliar pada 2026

Penulis: Fadhli Usman  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 15:37:01 WIB
Pemerintah menargetkan ekspor nikel olahan mencapai USD45 miliar pada 2026.

SUMATERA BARAT — Pemerintah menargetkan ekspor nikel yang sudah dihilirisasi mencapai USD45 miliar atau setara Rp806,67 triliun pada 2026. Target tersebut melanjutkan lonjakan nilai ekspor dari hanya USD3,3 miliar pada 2017-2018 menjadi lebih dari USD40 miliar pada 2025. Angka ini menjadi bukti bahwa pengolahan sumber daya alam di dalam negeri memberi nilai tambah jauh lebih besar ketimbang menjual bahan mentah.

Jakarta, TAMBANG - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan target tersebut saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10). Menurut Bahlil, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

Lonjakan nilai ekspor nikel tidak terjadi dalam semalam. Pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel mentah dan membangun industri pengolahan di dalam negeri. Hasilnya, nilai ekspor naik bertahap: dari sekitar USD3,3 miliar pada 2017-2018 menjadi USD34 miliar pada 2023, lalu melampaui USD40 miliar pada 2025.

Dari Bijih Mentah ke Produk Olahan

Nikel menjadi contoh paling nyata manfaat hilirisasi. Ketika bijih nikel masih dijual mentah, negara hanya menerima sebagian kecil dari nilai ekonominya. Setelah diolah menjadi feronikel, nikel pig iron, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik, nilainya melonjak berkali-kali lipat.

Bahlil menegaskan, dampak hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan. "Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional," ujar Bahlil, dikutip dari keterangan resmi, Kamis (15/10).

Menurutnya, hilirisasi turut mendorong tumbuhnya industri pendukung, meningkatkan partisipasi pengusaha nasional, memperkuat penguasaan teknologi, menciptakan lapangan kerja, serta memperluas pasar produk bernilai tambah.

Peta Jalan Hilirisasi hingga 2040

Pemerintah tidak berhenti pada nikel. Bahlil mengungkapkan, sudah ada peta jalan hilirisasi hingga 2040 dengan target investasi USD618 miliar. Cakupannya tidak terbatas pada mineral dan batu bara, tetapi juga minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.

"Saya ingin menyampaikan bahwa master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040 target kita mencapai 618 miliar USD," ungkap Bahlil.

Angka investasi itu menunjukkan skala ambisi pemerintah. Jika terealisasi, hilirisasi tidak hanya mengubah cara Indonesia mengelola sumber daya alam, tetapi juga menggeser posisi negara dalam rantai pasok global. Indonesia tidak lagi sekadar pemasok bahan mentah, melainkan produsen produk olahan bernilai tinggi.

Manfaat bagi Ekonomi dan Masyarakat

Keberhasilan nikel menjadi bukti bahwa penciptaan nilai tambah mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian. Hilirisasi membuka lapangan kerja di daerah-daerah yang memiliki cadangan mineral, seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Industri pendukung pun tumbuh, mulai dari jasa konstruksi, logistik, hingga penyediaan kebutuhan pekerja.

Pemerintah terus mendorong investasi pengolahan sumber daya alam agar kekayaan nasional memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Namun, tantangan tetap ada: memastikan hilirisasi berjalan berkelanjutan, ramah lingkungan, dan melibatkan pengusaha nasional, bukan hanya korporasi besar.

Dengan target USD45 miliar pada 2026, nikel masih menjadi tulang punggung hilirisasi Indonesia. Keberhasilan sektor ini akan menjadi tolok ukur apakah peta jalan hingga 2040 bisa berjalan sesuai rencana atau hanya menjadi angka di atas kertas.

Reporter: Fadhli Usman
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top