Edward Berger Sebut Industri Film Butuh Netflix untuk Bangkit

Penulis: Muzakir Salim  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 20:48:31 WIB
Sutradara Edward Berger menilai Netflix menjadi penggerak kebangkitan industri film pascapandemi.

SUMATERA BARAT — Sutradara Edward Berger menilai kehadiran Netflix menjadi penggerak yang dibutuhkan industri film untuk bangkit setelah pandemi. Dalam sesi wawancara di MIA Market Roma, ia menyebut platform streaming sebagai disrupsi yang membawa ide dan penonton baru. Berger juga mengaitkan titik balik kariernya dengan pengalaman gagal di film World War Z.

Edward Berger berbicara panjang soal cara membuat film di era streaming yang kian mengubah lanskap bisnis hiburan. Ia menilai tidak ada satu jalan yang benar untuk semua film. Menurutnya, bioskop dan platform streaming sama-sama punya tempat sendiri.

“Saya rasa tidak ada benar atau salah. Setiap film akan menemukan tempatnya. Semua saluran ini sifatnya menambah,” kata Berger dalam sesi fireside chat di MIA Market Roma.

Pujian untuk Netflix dan Disney

Berger secara terbuka memuji para pemain streaming besar karena mengguncang industri film yang butuh ide segar. Ia menilai Netflix berperan sebagai disrupsi nyata yang membangunkan ekosistem yang sempat stagnan.

“Industri film butuh Netflix untuk bangkit. Mereka benar-benar menjadi disrupsi,” ujarnya.

Namun ia melihat arah angin mulai berubah. Kini giliran Netflix yang justru belajar dari industri film, seiring pemulihan pendapatan box office studio-studio besar Hollywood.

Kegagalan World War Z Jadi Pelajaran Terbesar

Berger menyebut pengalaman gagal lebih banyak membentuk kariernya dibanding keberhasilan. Ia merujuk pada film keduanya, World War Z, yang ia garap bersama Brad Pitt. Proyek itu membuatnya mempertanyakan arah karier.

“Yang paling mengajari saya adalah kegagalan,” tuturnya.

Dari situ ia belajar bahwa film harus lahir dari sesuatu yang benar-benar ingin disampaikan. Ia lalu kembali ke jalur lewat Jack (2014), film berbiaya rendah bersama penulis skenario Nele Mueller-Stoefen tentang dua bersaudara yang terabaikan di Berlin.

Berger juga mengenang masa setelah lulus kuliah ketika bekerja dengan Good Machine, rumah produksi di balik film-film Todd Haynes dan Ang Lee. Menurutnya, yang menyambut Jack justru para pemain asing, bukan sineas Jerman.

“Yang datang adalah orang asing, bukan orang Jerman: Film Four, BBC Films, orang-orang Amerika. Semua orang di Amerika menonton film itu, di Hollywood. Filmnya kecil, tapi mereka sangat tertarik melihat film berikutnya, menemukan suara baru. Mereka lapar akan film,” kenangnya.

Jalan ke Conclave dan Proyek Terbaru

Jalur itu membuka pintu ke Conclave, film bertema Vatikan yang sebagian besar digarap di Cinecittà Studios, Roma. Berger menyebut lokasi itu sangat menginspirasi, seolah membawa suasana Fellini.

Conclave meraup 127 juta dolar AS di box office global dan mendapat delapan nominasi Academy Awards, termasuk skenario terbaik dan film terbaik. Film itu membawa pulang empat piala Oscar.

Proyek terbarunya, Ballad of a Small Player, dirilis Netflix tahun lalu dengan Colin Farrell sebagai penjudi yang terjerat utang di meja baccarat Makau. Berger juga menulis dan menyutradarai Submerged, film orisinal pertama yang digarap dengan Apple Immersive Video untuk perangkat Apple Vision Pro.

Ia tengah memproduksi Helo, thriller aksi helikopter polisi yang disutradarai Andrés Baiz dan dikembangkan di Netflix lewat rumah produksinya, Nine Hours, bersama Luke Rivett.

Rahasia Tetap Segar sebagai Sutradara

Bagi Berger, menjaga kualitas berarti terus bergerak. Ia biasa memelihara tiga sampai empat proyek sekaligus agar selalu ada yang dikerjakan.

“Saya ingin selalu ada tiga atau empat hal yang berjalan. Sebagian akan gugur karena kamu tidak bisa menghidupi keluarga. Naskahnya tidak sampai ke titik itu,” ujarnya.

Kepercayaan pada kolaborator kreatif juga ia anggap kunci. Ia mengaku sering salah dan berusaha menemukan kebenaran di hari pengambilan gambar.

“Saya manusia. Kamu manusia. Kita semua membuat kesalahan. Mari temukan kebenaran bersama,” kata Berger soal bekerja dalam tim.

Pernyataan Berger menegaskan satu hal: di tengah persaingan bioskop dan streaming, sutradara dituntut tetap produktif dan terbuka pada format baru.

Reporter: Muzakir Salim
Sumber: hollywoodreporter.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top