SUMATERA BARAT — Pedro Acosta menutup GP Indonesia di posisi kelima setelah sepanjang balapan bergulat dengan masalah tekanan ban. Cuaca panas yang menyengat di Sirkuit Mandalika memaksa Brad Binder mengerahkan seluruh kemampuannya demi menjaga performa KTM.
Rider KTM Pedro Acosta harus puas finis di urutan kelima pada GP Indonesia di Sirkuit Mandalika. Hasil itu diraihnya lewat perjuangan berat karena tekanan ban menjadi gangguan utama sepanjang balapan.
Kondisi trek yang panas menambah beban tersendiri bagi Acosta. Ia dituntut menjaga tekanan ban tetap pada rentang ideal tanpa kehilangan daya saing di lintasan.
Masalah tekanan ban bukan perkara sepele di MotoGP. Regulasi ketat soal batas minimum tekanan membuat pembalap harus pintar mengatur ritme sejak lap awal.
Acosta memilih bermain aman ketimbang memaksa tempo. Strategi itu berbuah posisi kelima, meski ia kehilangan peluang menempel kelompok terdepan.
Brad Binder menghadapi tantangan berbeda. Suhu panas di Mandalika memaksa pembalap Afrika Selatan itu mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menjaga konsistensi.
Beban fisik jadi ujian utama. Sirkuit Mandalika dikenal punya kombinasi tikungan cepat dan panjang yang menguras tenaga, terlebih di bawah terik matahari.
Dua pembalap KTM sama-sama melalui akhir pekan yang menantang di Mandalika. Hasil Acosta dan perjuangan Binder menjadi gambaran jelas bahwa tim pabrikan asal Austria itu masih punya pekerjaan rumah.
KTM belum menemukan formula ideal untuk beradaptasi dengan karakter trek dan cuaca ekstrem. Evaluasi menyeluruh akan jadi agenda wajib sebelum rangkaian balapan berikutnya.
Sirkuit Mandalika memang menuntut lebih dari sekadar kecepatan motor. Panas dan kelembapan tinggi membuat manajemen ban serta kebugaran pembalap sama pentingnya dengan performa mesin.
Acosta dan Binder membuktikan bahwa bertahan di lintasan saja sudah jadi pencapaian tersendiri. Klasemen pembalap dan konstruktor akan menjadi tolok ukur seberapa besar dampak akhir pekan ini bagi KTM.