SAWAHLUNTO — Dialog tersebut digelar FKUB Kota Sawahlunto dengan agenda utama memperkuat komunikasi lintas agama. Peserta dibagi dalam dua angkatan untuk dua hari pelaksanaan.
Peserta terdiri dari perwakilan tokoh lintas agama, penyuluh agama kecamatan, dan pengurus masjid se-Kota Sawahlunto. Komposisi itu dipilih agar forum tidak berhenti di kalangan pengurus organisasi.
Dalam sambutannya, Wawako Jeffry menyebut kerukunan sebagai aset paling mahal yang dimiliki Sawahlunto. Ia menegaskan pemerintah, FKUB, Kemenag, dan tokoh lintas agama harus mencegah potensi perpecahan sejak dini.
"Keistimewaan Sawahlunto itu kerukunannya. Beda agama, beda suku, tapi bisa hidup berdampingan dengan damai. Ini yang harus kita pelihara bersama. Pemerintah, FKUB, Kemenag, dan tokoh lintas agama harus cegah potensi perpecahan sejak dini, jangan tunggu ada api baru disiram," tegas Jeffry.
Jeffry meminta FKUB tidak berhenti pada forum dialog. Ia mendorong optimalisasi peran lewat kegiatan yang menyentuh generasi muda dan relevan dengan zaman.
Sejumlah bentuk kegiatan yang disebut antara lain kemah lintas agama, dialog kebangsaan di sekolah, hingga aksi sosial bersama. Pemko Sawahlunto, kata Jeffry, sepenuhnya mengapresiasi dan mendukung kegiatan yang memperkuat fondasi kerukunan.
Ketua FKUB Kota Sawahlunto Zainul Arizal Datuak Bandaro Putih mengingatkan tantangan kerukunan ke depan berada di tangan generasi penerus. Menurutnya, persatuan yang dinikmati hari ini belum tentu terwariskan otomatis.
"Yang rukun hari ini adalah orang tuanya. Pertanyaannya, apakah anak dan cucu kita nanti akan serukun ini? Makanya antisipasi sejak dini itu penting, agar persatuan ini bisa kita wariskan, bukan hanya kita nikmati," ujar Datuak Bandaro Putih.
Dialog digelar di tengah menguatnya polarisasi di ruang digital. FKUB Sawahlunto memposisikan kegiatan ini sebagai langkah preventif agar keharmonisan yang menjadi identitas Kota Warisan Dunia itu tidak retak.