Gibran Apresiasi Ibu-Ibu Bank Sampah Pertamina di Cilacap, Jelantah Jadi Cuan

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:49:01 WIB
Wakil Presiden Gibran Rakabuming berdialog dengan pengelola bank sampah binaan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap di Gedung Patra Graha, Cilacap, Senin (26/10/2026).

SUMATERA BARAT — Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengapresiasi peran ibu-ibu pengelola bank sampah binaan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap dalam mengolah minyak jelantah menjadi bahan baku energi, Senin (26/10/2026). Kegiatan sederhana dari rumah itu kini terhubung dengan rantai pasok bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bagi warga Cilacap, jelantah yang dulu dibuang berubah jadi sumber penghasilan tambahan.

Gibran berdialog langsung dengan para pengelola bank sampah di Gedung Patra Graha, Cilacap. Forum itu mempertemukan pemerintah dengan komunitas ibu-ibu yang selama bertahun-tahun memilah sampah rumah tangga. Pertemuan menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya urusan kilang dan teknologi, tetapi juga melibatkan dapur rumah tangga.

Dalam dialog itu, Gibran menilai keterlibatan komunitas lokal memberi makna lebih pada pengembangan energi berkelanjutan. Menurutnya, inisiatif semacam ini membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

Dari 30 Liter ke 100 Kilogram per Bulan

Sri Widowati, pengelola Bank Sampah Beo Asri, menuturkan perjalanan kelompoknya. Sejak dirintis 2012, kegiatan awalnya hanya memilah sampah organik dan anorganik. Cakupan berubah setelah para pengelola mendapat edukasi soal pemanfaatan jelantah sebagai bahan baku biodiesel pada 2023.

Pendampingan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap membuat pengumpulan jelantah meningkat tajam. "Dari mengumpulkan yang tadinya sebulan itu karena tidak serius, paling berapa bulan hanya dapat 30 liter. Namun akhirnya meningkat sampai sekarang satu bulan itu bisa sampai 100 kilogram," kata Wido, sapaan akrabnya.

Lonjakan itu bukan sekadar angka. Bagi ibu-ibu yang terlibat, jelantah yang sebelumnya dibuang kini punya harga dan memberi pemasukan tambahan bagi rumah tangga.

Jejaring Bank Sampah Binaan Pertamina

Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, menyebut ada sejumlah bank sampah mitra binaan di Cilacap. Di antaranya Bank Sampah Beo Asri Tegalreja, Bank Sampah Abhipraya di Kutawaru, Cahaya Asri di Tegalkamulyan, dan Moms Go Green.

Kelompok-kelompok itu mengelola beragam jenis sampah, mulai dari sisa sayuran, sisa makanan rumah tangga, dan daun, hingga plastik, botol plastik, kardus, kertas, besi, kaleng, dan kaca. Minyak jelantah dikumpulkan secara berkala untuk disalurkan kepada mitra pengelola.

Alur inilah yang menghubungkan aktivitas warga dengan industri energi nasional. Jelantah dari bank sampah menjadi bahan baku yang berpotensi mendukung produksi SAF di Cilacap.

Mengapa Cilacap Jadi Titik Penting

Pengembangan SAF di Cilacap menunjukkan keterkaitan antara industri, pemeliharaan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Gibran menyoroti peran ibu-ibu sebagai penghubung ketiga unsur itu.

"Pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Cilacap menunjukkan hubungan saling terkait antara industri, pemeliharaan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat terutama ibu-ibu," ujarnya.

Inisiatif ini juga selaras dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Mulai dari tujuan kelima soal kesetaraan gender, tujuan ketujuh energi bersih dan terjangkau, tujuan kedelapan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, hingga tujuan kesebelas, keduabelas, dan ketigabelas soal kota berkelanjutan, konsumsi bertanggung jawab, dan penanganan perubahan iklim.

Gibran menambahkan, semangat gotong royong yang tumbuh dari kegiatan bersama menjadi kekuatan tersendiri. "Semangat gotong royong yang tumbuh dari kegiatan bersama ini menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan inisiatif yang manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan," imbuhnya.

Bagi Pertamina, program bank sampah di Cilacap memperlihatkan bagaimana rantai pasok energi bisa dimulai dari level rumah tangga. Bagi warga, jelantah yang dulu limbah kini punya nilai jual, sekaligus menjaga lingkungan tetap bersih.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top