PADANG — Mahyeldi menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi kedokteran, dan transformasi digital yang menuntut peningkatan kualitas pelayanan di setiap rumah sakit. Menurutnya, keselamatan pasien harus menjadi perhatian dalam setiap proses pelayanan, bukan hanya saat tindakan medis berlangsung.
"Rumah sakit harus terus berbenah. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi kedokteran, dan transformasi digital menuntut peningkatan kualitas pelayanan. Yang paling utama, keselamatan pasien harus menjadi perhatian dalam setiap proses pelayanan," tegas Mahyeldi.
Gubernur menyinggung masih tingginya jumlah masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Kebiasaan itu membuat dana masyarakat dalam jumlah besar setiap tahun mengalir keluar negeri untuk kebutuhan pengobatan.
Kondisi tersebut, kata Mahyeldi, harus menjadi bahan evaluasi sekaligus momentum bagi rumah sakit dalam negeri untuk meningkatkan daya saing. Ia menyebut daya saing mencakup kualitas pelayanan, kompetensi tenaga kesehatan, kelengkapan fasilitas, hingga tata kelola manajemen rumah sakit.
Mahyeldi juga menilai perlu ada evaluasi terhadap berbagai faktor yang memengaruhi tingginya biaya pelayanan kesehatan, termasuk kebijakan pajak terhadap alat kesehatan. Ia berharap PERSI menyampaikan persoalan itu kepada Kementerian Kesehatan dan pihak terkait agar dicarikan solusi.
Menurut Gubernur, solusi atas persoalan tersebut akan mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan nasional. Ia menilai kolaborasi lintas wilayah Sumbar dan Riau dapat memperkuat jejaring serta sinergi antarrumah sakit dalam menghadapi tantangan pembangunan sektor kesehatan.
Mahyeldi mengingatkan pelayanan kesehatan bukan semata pekerjaan profesional, melainkan bentuk pengabdian kemanusiaan. Tenaga kesehatan dan pengelola rumah sakit diharapkan menghadirkan pelayanan yang tidak hanya mengutamakan aspek medis, tetapi juga memberi rasa aman, optimisme, dan kenyamanan bagi pasien serta keluarganya.
Ketua PERSI Wilayah Sumbar Dovy Djanas menyebut pelantikan pengurus periode 2026–2030 bukan sekadar kegiatan seremonial atau pergantian kepengurusan. Menurutnya, forum itu menjadi momentum memperkuat komitmen dan meningkatkan kontribusi organisasi dalam pembangunan kesehatan, khususnya mutu pelayanan rumah sakit di Sumbar dan Riau.
Dovy menjabarkan sejumlah prioritas PERSI Sumbar ke depan:
PERSI Sumbar juga mendorong pembentukan AMR Sumbar Network untuk memperkuat pengendalian resistensi antimikroba. Jaringan itu melibatkan kolaborasi rumah sakit, Dinas Kesehatan, dan laboratorium mikrobiologi.
Melalui kepengurusan periode 2026–2030, PERSI dan MAKERSI diharapkan semakin solid menjalankan peran organisasi sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah. Targetnya, pelayanan kesehatan di Sumbar dan Riau semakin bermutu, aman, merata, dan berkeadilan bagi masyarakat.