Pencarian

Fenomena Sinkhole di Sumbar Jadi Sorotan, Ahli Ungkap Peran Geologi dan Perubahan Iklim

Rabu, 14 Januari 2026 • 15:10:05 WIB
Fenomena Sinkhole di Sumbar Jadi Sorotan, Ahli Ungkap Peran Geologi dan Perubahan Iklim
Lubang amblesan di Lima Puluh Kota terjadi akibat pelarutan batuan karbonat dan erosi tanah bawah permukaan.

PADANG – Fenomena lubang amblesan tanah atau sinkhole yang muncul di tengah sawah di Nagari Situjuh Batuah, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, kembali menyita perhatian publik. Lubang besar berisi air tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai penyebab kemunculannya serta potensi kejadian serupa di masa mendatang.

Secara ilmiah, sinkhole merupakan fenomena alam yang dapat terjadi di berbagai belahan dunia. Kejadian serupa tercatat di Inggris, Amerika Serikat, Thailand, hingga China, dan tidak selalu berkaitan langsung dengan aktivitas manusia.

Menurut kajian geologi, sinkhole paling sering terjadi di wilayah yang memiliki batuan karbonat seperti batu kapur dan dolomit. Jenis batuan ini dapat larut secara perlahan ketika terpapar air yang bersifat sedikit asam, sehingga membentuk rongga di bawah permukaan tanah.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatra Barat, Ikatan Ahli Geologi Indonesia wilayah Sumbar, Dian Hadiyansyah, menjelaskan bahwa kondisi geologi di Nagari Situjuh Batuah memang memungkinkan terjadinya fenomena tersebut.

Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api dan kawasan karst atau batu gamping yang memiliki sistem sungai bawah tanah. Rekahan pada batu gamping dapat terlarut oleh air, membentuk saluran bawah tanah. Ketika atap saluran tersebut tidak lagi mampu menopang beban di atasnya, runtuhan pun terjadi dan membentuk lubang amblesan di permukaan.

Selain batu kapur, jenis batuan lain seperti batu pasir (sandstone) juga berpotensi memicu sinkhole. Meskipun mineral penyusunnya tidak mudah larut, semen alami yang merekatkan butiran pasir dapat terurai oleh air, sehingga material tanah terbawa aliran air bawah tanah dan meninggalkan rongga.

Fenomena sinkhole juga dapat terjadi tanpa proses pelarutan batuan. Aliran air bawah tanah yang kuat mampu mengangkut tanah atau pasir lepas, menciptakan ruang kosong yang lambat laun membesar. Dalam beberapa kasus, lubang bekas tambang lama atau liang hewan turut memperbesar risiko amblesan tanah.

Kondisi paling berbahaya terjadi ketika lapisan batuan di bawah tanah telah membentuk rongga besar, sementara lapisan permukaan masih tampak stabil. Dari luar, tanah terlihat aman, namun ketika rongga di bawah membesar, lapisan atas bisa runtuh secara tiba-tiba. Pemicu runtuhan bisa berupa hujan lebat, getaran gempa, atau beban berat seperti kendaraan.

Apakah Sinkhole Akan Semakin Sering Terjadi?

Para ahli menegaskan bahwa sinkhole sejatinya merupakan fenomena alami yang telah terjadi sejak ribuan hingga jutaan tahun lalu. Sinkhole raksasa di China dan kawasan karst di berbagai negara terbentuk jauh sebelum adanya aktivitas manusia modern.

Namun, aktivitas manusia kerap mempercepat atau memicu kemunculan sinkhole. Pengeboran tanah, proyek infrastruktur besar, kebocoran pipa bawah tanah, serta perubahan aliran air dapat mempercepat pelarutan batuan atau erosi tanah.

Di kawasan perkotaan, risiko sinkhole meningkat akibat berkurangnya daerah resapan air. Permukaan keras seperti jalan dan bangunan membuat air hujan mengalir ke bawah tanah melalui jalur tertentu, meningkatkan potensi erosi di bawah permukaan. Lapisan jalan yang kaku juga dapat menopang rongga dalam waktu lama, lalu runtuh secara mendadak.

Eksploitasi air tanah berlebihan juga menjadi faktor risiko. Ketika cadangan air tanah berkurang, material tanah kehilangan penyangga alami, sehingga lebih mudah runtuh.

Perubahan iklim turut memperburuk kondisi tersebut. Curah hujan ekstrem yang semakin sering meningkatkan potensi pelarutan batuan dan pergerakan tanah. Karena itu, para ahli memperkirakan kejadian sinkhole berpotensi menjadi lebih sering, terutama di wilayah karst dan daerah padat penduduk.

Meski demikian, upaya deteksi dini masih memiliki keterbatasan. Metode uji seismik dapat membantu mengidentifikasi rongga bawah tanah, namun umumnya baru efektif jika lokasi rawan telah diketahui sebelumnya.

Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah dengan karakter geologi rentan, serta segera melaporkan tanda-tanda awal seperti retakan tanah, genangan air tidak wajar, atau penurunan permukaan tanah secara perlahan.

Bagikan
Sumber: Kumparan

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks