Pencarian

Krisis Air Meluas di Padang, Gerakan Sejuta Pohon Dimulai dari Hulu Sungai

Kamis, 22 Januari 2026 • 16:05:04 WIB
Krisis Air Meluas di Padang, Gerakan Sejuta Pohon Dimulai dari Hulu Sungai
Warga Kuranji bergotong royong tanam pohon sebagai upaya atasi krisis air bersih pascabencana.

Padang – Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang pascabencana hidrometeorologi akhir 2025 mendorong pemerintah daerah mengambil langkah pemulihan ekologi secara serius. Salah satu upaya yang kini mulai digerakkan adalah penanaman sejuta pohon untuk memulihkan kawasan hulu sungai dan daerah resapan air.

Kondisi kerusakan ekosistem di hulu sungai menyebabkan pergeseran aliran air, terputusnya jaringan irigasi, hingga menurunnya cadangan air tanah. Dampaknya, ratusan titik di Kota Padang mengalami kekeringan, terutama di kawasan yang belum terlayani jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Atas dasar itu, Kota Padang dipilih sebagai lokasi peluncuran sekaligus penanaman perdana program “Sejuta Pohon untuk Sumbar 2026” yang digagas Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera. Kegiatan tersebut digelar di kawasan Pemandian Jembatan Sitapuang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kamis (22/1/2026).

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa, menegaskan bahwa pemulihan hutan dan kawasan hulu sungai menjadi kunci utama untuk mengatasi krisis air bersih yang kini dirasakan masyarakat.

“Penghijauan kembali kawasan hutan dan hulu sungai adalah solusi mutlak untuk memperbaiki siklus air. Tanpa itu, persoalan air akan terus berulang,” ujar Raju.

Ia menjelaskan, bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November hingga Desember lalu menyebabkan perubahan alur sungai di sejumlah lokasi. Akibatnya, jaringan irigasi rusak dan sumur-sumur warga mengering karena cadangan air tanah menurun drastis.

Berdasarkan data pemerintah daerah, tercatat 121 titik kekeringan di Kota Padang, dengan dampak terparah berada di Kecamatan Kuranji. Di wilayah ini, sekitar 80 persen warga belum terjangkau layanan PDAM dan selama ini mengandalkan sumur gali sebagai sumber utama air bersih.

“Sungai berpindah daerah aliran, irigasi terputus, dan sumur warga kering. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan kebutuhan air masyarakat kembali terpenuhi,” kata Raju.

Sebagai langkah jangka pendek, Pemkot Padang telah menyalurkan air bersih melalui kolaborasi BPBD Kota Padang, BPBD Provinsi Sumbar, dan Palang Merah Indonesia (PMI) dengan mengoperasikan mobil tangki ke seluruh titik terdampak.

Sementara untuk solusi jangka menengah dan panjang, pemerintah daerah mulai Sabtu ini akan membangun sumur bor di lima lokasi prioritas, bekerja sama dengan Balai Pembangunan Kawasan Permukiman Sumbar, guna menyediakan sumber air baru bagi warga non-PDAM.

Di sisi lain, gerakan penanaman sejuta pohon diproyeksikan sebagai solusi ekologis jangka panjang. Melalui kolaborasi dengan Rumah Aktivis Sejahtera dan Dinas Pertanian yang membidangi kehutanan, Pemkot Padang berkomitmen mengawal pertumbuhan pohon-pohon tersebut agar fungsi resapan air di kawasan hulu dapat kembali optimal.

“Gerakan ini bukan sekadar simbolis. Kami akan memastikan pohon yang ditanam tumbuh dan berfungsi menjaga ketahanan ekologi kota,” tegas Raju.

Kegiatan peluncuran program ini juga dihadiri Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi, yang mengapresiasi langkah kolaboratif antara pemerintah daerah dan elemen masyarakat dalam memulihkan lingkungan pascabencana.

Upaya ini diharapkan menjadi fondasi jangka panjang dalam menghadapi ancaman krisis hidrometeorologi serta menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat Kota Padang dan Sumatra Barat ke depan.

Bagikan
Sumber: Padang.go.id

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks