Aula Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP dipadati ratusan intelektual muda yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk seremoni, melainkan bersaing dalam Olimpiade Sosiologi, kompetisi esai, hingga pembuatan video dokumenter bertema "Write The Vision, Draw The Reality".
Antusiasme peserta terlihat dari sebaran asal sekolah yang mencapai 89 institusi. Jarak bukan menjadi penghalang bagi para peserta untuk menunjukkan taji dalam memahami dinamika kemasyarakatan di ranah Minang.
Peserta Selayar Tempuh 2.000 Kilometer Demi Santika Synthesis 2026
Panitia mencatat kehadiran peserta terjauh berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Pelajar tersebut menempuh perjalanan lebih dari 2.000 kilometer untuk bisa berdebat dan menguji gagasan di hadapan para juri di Kota Padang.
Ketua Pelaksana Santika Synthesis 2026, Aufa Raihan, menjelaskan bahwa ajang ini memang dirancang sebagai titik temu gagasan lintas daerah. Mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2023 ini berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan daya berpikir kritis di bidang sosial.
"Kami berharap ini bisa menjadi acuan bagi departemen lain di lingkungan UNP," ujar Aufa saat memberikan keterangan di sela-sela pembukaan acara.
Mengapa Ilmu Sosial Harus Berhenti Dianggap Pelajaran Kelas Dua?
Kepala Departemen Sosiologi UNP, Dr. Delmira Syafrini, S.Sos., MA, menyoroti tantangan yang selama ini dihadapi disiplin ilmu sosial. Menurutnya, pada level nasional, ilmu sosial seringkali kurang mendapat perhatian dalam ajang olimpiade dibandingkan ilmu eksakta.
“Padahal sosiologi berperan penting dalam membentuk cara berpikir analitis generasi penerus bangsa. Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan. Ini adalah ruang belajar, ruang bertemu, dan ruang bertumbuh,” tegas Delmira.
Senada dengan itu, Dekan FIS UNP, Afriva Khaidir, Ph.D, yang mewakili Rektor UNP, mengingatkan bahwa anak muda harus mampu membaca realitas sosial di tengah perubahan masyarakat yang cepat. Ia menekankan pentingnya menawarkan gagasan yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif.
Sinergi Strategis UNP Bersama Disdik dan Kanwil Kemenag Sumbar
Acara ini juga menjadi momentum penguatan ekosistem pendidikan di Sumatera Barat. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UNP dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar, Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumbar, serta MGMP Sosiologi Kabupaten se-Sumatera Barat.
Mewakili Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Monika Nur, Ph.D, menilai sosiologi memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda yang peka terhadap lingkungan. Terutama, menurutnya, di tengah gaya hidup hedonis yang kian marak saat ini.
Dukungan serupa datang dari Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sumbar, H. Tan Gusli. Kehadiran lintas instansi ini mempertegas bahwa penguatan pendidikan sosial kini menjadi agenda bersama untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual maupun sosial.