SUMATERA BARAT — Berdasarkan data Bloomberg pukul 9.45 WIB, mata uang Garuda terdepresiasi 89 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.503 per dolar AS. Posisi ini menjadi yang terlemah dalam beberapa pekan terakhir, melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung sejak awal pekan. Sejak pembukaan di level Rp17.489, rupiah langsung tertekan dan tak mampu bangkit kembali.
Tekanan dari Dua Sisi: Harga Minyak dan MSCI
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Di satu sisi, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di level tinggi terus membebani negara-negara importir energi seperti Indonesia. Di sisi lain, pelaku pasar mulai bersikap wait and see menjelang pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak akan memberikan katalis positif bagi indeks saham domestik.
"Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah. Investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Ia menambahkan bahwa meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran turut memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga semakin menyulitkan mata uang negara berkembang untuk bangkit.
Pelemahan Serempak di Asia, Rupiah Paling Terpukul
Rupiah tidak sendirian tertekan. Mayoritas mata uang Asia kompak melemah terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea Selatan menjadi yang paling parah dengan koreksi hingga 1 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,50 persen. Ringgit Malaysia dan yen Jepang masing-masing turun 0,22 persen, sementara yuan China dan dolar Singapura juga tak luput dari tekanan.
Kondisi ini mencerminkan dominasi dolar AS yang kian kuat di pasar global. Indeks dolar AS bergerak di level tinggi, didorong oleh data ketenagakerjaan AS yang solid serta sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) yang belum menunjukkan sinyal akan segera memangkas suku bunga.
Rentang Pergerakan dan Sinyal ke Depan
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS sepanjang hari ini. Artinya, level Rp17.500 masih bisa diuji kembali jika tidak ada sentimen positif yang masuk. Pelaku pasar kini menanti data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan rilis siang ini sebagai indikator kekuatan konsumsi domestik.
Jika data tersebut menunjukkan perlambatan, tekanan terhadap rupiah bisa semakin dalam. Sebaliknya, hasil yang lebih baik dari ekspektasi setidaknya bisa memberikan ruang napas bagi mata uang Garuda untuk stabilisasi sementara.