PADANG — Lokakarya tari yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat tidak hanya sekadar pelatihan gerak. Dengan tema “Pulang ke Akar: Membaca Tradisi, Menulis Tubuh”, kegiatan ini menjadi ajang bagi para peserta untuk menggali potensi diri dan memperluas cakrawala seni, dari tari tradisi menuju tari kontemporer.
Dari Tradisi ke Eksplorasi Gerak Baru
Hafiz, seorang mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP), mengaku mengikuti lokakarya ini karena ingin mengembangkan kemampuannya di luar tari tradisi yang selama ini ia kuasai. “Saya merasa selama ini saya unggul di tari tradisi, jadi ingin menggali tari kontemporer,” katanya di Padang, Selasa.
Ia menambahkan, semangatnya semakin besar karena materi dibawakan oleh narasumber yang kompeten di bidangnya. Hafiz juga menilai perkembangan seni tari di Sumatera Barat saat ini cukup baik dibandingkan daerah lain.
Guru Seni Ikut Lokakarya untuk Bekal Mengajar
Peserta lain, Juprianto, datang dari Sijunjung dengan motivasi berbeda. Guru seni budaya SMAN 12 Sijunjung ini sudah beberapa kali mengikuti lokakarya serupa. Ia mengaku ingin menambah ilmu sekaligus menjajal kemampuan untuk tampil di Ganggam Tari Kontemporer IV pada September mendatang.
“Kalau tidak terpilih untuk tampil nantinya, saya juga tidak apa-apa karena ilmunya bisa bermanfaat untuk pengajaran di sekolah,” ujar Juprianto.
Dua Tujuan Besar Taman Budaya Sumbar
Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, menjelaskan bahwa lokakarya ini digelar untuk dua hal. Pertama, meningkatkan kecintaan dan apresiasi masyarakat terhadap seni tari kontemporer yang berakar pada kekayaan budaya lokal. Kedua, memperkaya khazanah seni pertunjukan di Sumatera Barat dan Indonesia dengan karya-karya yang memiliki karakter lokal yang kuat.
Sebanyak 25 peserta dari berbagai daerah di provinsi itu hadir dalam kegiatan yang berlangsung di Padang ini. Mereka tidak hanya menerima teori, tetapi juga praktik langsung menuliskan tubuh melalui gerak yang terinspirasi dari tradisi.