Pencarian

Survei Quaest: 50% Warga Brasil Nilai Ekonomi Memburuk, Hanya 19% Melihat Perbaikan

Senin, 28 September 2026 • 15:49:31 WIB
Survei Quaest: 50% Warga Brasil Nilai Ekonomi Memburuk, Hanya 19% Melihat Perbaikan
Warga melintas di kawasan pusat bersejarah Sao Paulo, Brasil.

SUMATERA BARAT — Hampir separuh warga Brasil, tepatnya 50%, menilai kondisi ekonomi negara itu justru memburuk dalam setahun terakhir. Hanya 19% yang menyatakan ekonomi sudah membaik, menurut jajak pendapat lembaga Quaest yang dirilis September. Kesenjangan persepsi ini muncul di tengah klaim pemerintah bahwa sejumlah indikator makro mulai menunjukkan perbaikan.

Jajak pendapat Quaest menangkap jurang lebar antara narasi pemerintah dan pengalaman sehari-hari rumah tangga Brasil. Angka 50% versus 19% itu menunjukkan indikator makroekonomi belum dirasakan kalangan masyarakat umum. Survei ini dirilis pada September, di tengah klaim pemerintah bahwa sejumlah indikator ekonomi mulai membaik.

Felipe Nunes, pendiri sekaligus CEO lembaga survei Quaest, menyoroti cara pemilih menilai kondisi ekonomi. "Pemerintah memiliki berbagai pencapaian yang bisa ditunjukkan, namun para pemilih mempertanyakan seberapa besar manfaat dari pencapaian tersebut yang benar-benar dirasakan oleh rumah tangga mereka," kata Nunes.

"Pemilih menilai kondisi ekonomi berdasarkan kemampuan mereka untuk membayar tagihan, mengonsumsi barang dan jasa, serta mencapai tujuan pribadi mereka," sambungnya.

Beban Utang Rumah Tangga Cetak Rekor 26,6% dari Pendapatan

Data bank sentral Brasil mencatat beban pembayaran utang rumah tangga di luar kredit perumahan mencapai rekor tertinggi 26,6% dari pendapatan pada Juni. Lonjakan ini dipicu perusahaan fintech yang berkembang pesat dengan menawarkan kredit mudah berbunga tinggi. Maraknya judi online turut menyedot pendapatan rumah tangga hingga miliaran real Brasil.

Suku bunga acuan Brasil sebesar 13,75%, salah satu suku bunga riil tertinggi di dunia, memperparah beban tersebut. Bank sentral kini menurunkan suku bunga secara bertahap sembari memantau ketat laju inflasi.

Inflasi harga pangan memang mulai melambat tajam, bahkan harga produk sempat turun pada periode Juni-Agustus. Namun kenaikan harga tinggi selama beberapa tahun terakhir terus membebani anggaran rumah tangga, dengan tingkat harga masih jauh di atas angka sebelum pandemi.

Kleyton Zacarioto: Upah Minimum Tak Cukup untuk Perbaiki Nasib

Kleyton Zacarioto, pekerja di toko daging dekat kawasan pusat bersejarah Sao Paulo, merasakan langsung dampaknya. Jumlah pelanggan terus menurun selama beberapa tahun terakhir imbas kenaikan harga pangan yang berkepanjangan.

"Seseorang dengan penghasilan upah minimum tidak memiliki peluang untuk memperbaiki nasib," ujarnya seperti dikutip dari Reuters.

Kondisi ini mendorong banyak warga, termasuk Zacarioto, enggan mempertahankan Luiz Inacio Lula da Silva sebagai Presiden Brasil pada pemilu mendatang. Zacarioto bahkan menyebut Lula sebagai satu-satunya kandidat yang sudah pasti tidak akan dipilihnya, meski ia mengakui sang presiden sempat memiliki kinerja baik ketika pertama kali menjabat pada 2000-an.

Fenomena Vibecession dan Bayang-bayang Pemilu AS 2024

Thomas Traumann, analis politik dan penulis, menilai perbedaan persepsi ini mencerminkan kesenjangan antara indikator ketenagakerjaan dan inflasi yang membaik dengan kenyataan rumah tangga sehari-hari. "Semua angka statistik utama menunjukkan bahwa pemerintahan ini telah bekerja dengan baik. Namun kenyataannya, masyarakat umum justru tidak sependapat dengan hal itu," ujar Traumann.

Traumann membandingkan situasi Brasil dengan kesulitan Presiden AS Joe Biden menjelang pemilu 2024 dalam menjembatani kesenjangan persepsi data makroekonomi yang positif namun sentimen konsumen yang negatif. Komentator ekonomi Kyla Scanlon menyebut fenomena ini sebagai "vibecession" — resesi yang dirasakan berdasarkan suasana hati, bukan sekadar data teknis.

Ekonom: Kemajuan Makro Nyata, tapi Seperti Pertandingan Seri

Marcelo Neri, ekonom di Fundacao Getulio Vargas, mengakui adanya kemajuan signifikan pada data pasar tenaga kerja, indikator kemiskinan, dan perluasan kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir. Namun ia menekankan faktor lain yang menggerus daya beli.

"Jika kita turut memperhitungkan akumulasi inflasi harga pangan, suku bunga, dan taruhan daring, hasilnya bisa dibilang seperti pertandingan seri yang diwarnai banyak gol dari kedua belah pihak," jelas Neri.

Follow sumbar360.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks