Yayasan Cagak Inti Kreativa menggelar acara "Telusur Sastra" menyusuri jejak Siti Nurbaya di Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (27/9/2026). Rombongan menyambangi sejumlah lokasi yang disebut dalam novel Marah Rusli itu, mulai dari Masjid Al Hakim, Ambacang, Alang Laweh, hingga Gunung Padang yang diyakini sebagai lokasi makam Siti Nurbaya.
PADANG — Peserta berkumpul di Masjid Al Hakim, kawasan pantai Padang, sejak pukul 7.30 WIB. Setelah sarapan bersama, rombongan bergerak menuju Ambacang dengan menaiki Odong-Odong pada pukul 8.30 WIB. Penyair dan sejarawan Deddy Arsya bertindak sebagai pemandu perjalanan itu.
Ambacang dan Alang Laweh: Jejak Sekolah hingga Permukiman Bangsawan
Di Ambacang, rombongan berhenti sejenak untuk melihat bangunan sekolah dan gereja peninggalan zaman Belanda yang masih terpelihara. Menurut Deddy Arsya, di kawasan itulah dulu berlokasi sekolah dasar Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri.
Perjalanan berlanjut ke Alang Laweh, kawasan tempat tinggal kaum bangsawan Padang masa lalu. Rumah batu beratap tinggi dengan jendela besar dan halaman luas masih berdiri di pinggir jalan utama. Sebagian halaman tampak berserakan sampah dan jendela rumah masih tertutup.
Bangunan Tua Muara yang Beralih Fungsi
Odong-odong membawa rombongan melewati Ranah, Pasar Gadang, dan kawasan kota tua di Muara. Sepanjang jalan pantai itu berdiri bangunan tua berupa gudang, kantor bank dan perusahaan, serta hotel. Sebagian besar bangunan di kawasan tersebut terawat dan kini dialihfungsikan menjadi kafe, wahana bermain, dan museum.
Benteng Belanda dan Monyet Ekor Panjang di Gunung Padang
Selepas gerbang masuk, peserta menapaki jalan tembok yang rapi di samping rumah nelayan yang sedang istirahat. Tak jauh dari situ berdiri sebuah benteng dengan meriam tua berukuran besar, yang dibangun Belanda untuk mengawasi kapal keluar-masuk pantai Padang.
Dari belukar dan pepohonan di balik benteng muncul beberapa monyet ekor panjang, hewan endemik kawasan itu. Monyet-monyet tersebut tampak ramah dan tidak mengganggu rombongan.
Makam Siti Nurbaya di Celah Dua Batu Besar
Setelah melewati anak tangga yang tinggi, rombongan sampai di celah sempit di antara dua batu besar. Peserta berjalan pelan sambil menunduk dan berhenti di tembok petak tanpa mejan. Di situlah makam Siti Nurbaya berada, terletak di tebing dengan pemandangan langsung ke laut luas.
Naik beberapa tangga lagi, rombongan tiba di sebuah taman dengan panorama yang jauh lebih cantik. Dari ketinggian itu, peserta bisa memandang ke segala arah dengan bebas. Pantai Muara dengan kapal dan bangunan tua terlihat di arah selatan, sedangkan Pantai Air Manis dengan pasir putih dan Pelabuhan Teluk Bayur berada di arah utara. Beberapa pulau kecil tampak di tengah laut.
Kuburan cina besar yang dulu penuh riasan sudah tidak ditemukan lagi di lokasi itu karena telah dipindah ke arah Bungus. Taman tersebut disebut sebagai tempat bermain Siti Nurbaya bersama teman-temannya seperti diceritakan di awal novel.
Gagasan Navis dalam Buku Geo-Sastra dan Seni Minangkabau
Saat istirahat di puncak Gunung Padang, penulis teringat gagasan A.A. Navis dalam buku "Geo-Sastra dan Seni Minangkabau". Buku tipis itu ditulis untuk acara wisata dalam rangkaian Pertemuan Sastrawan Nusantara IX tahun 1997 di INS Kayutanam.
Navis memaparkan tiga rute perjalanan mengelilingi Sumatera Barat. Rute pertama menuju Pariaman, Lubuk Basung, Maninjau, Bukittinggi, Padang Panjang, dan kembali ke Kayu Tanam. Rute kedua menuju Padang, Solok, Batusangkar, Padang Panjang, dan kembali ke Kayu Tanam. Rute ketiga menuju Padang Panjang, Singkarak, Solok, Padang, dan kembali ke Kayu Tanam.
Setiap nagari yang dilalui dijelaskan hal-hal penting tentang wilayah tersebut dalam beberapa kategori data. Kategori pertama adalah tokoh, mulai dari penulis, sastrawan, seniman, intelektual, hingga ulama yang berasal dari nagari itu. Ketika melewati Maninjau, misalnya, dijelaskan bahwa dari wilayah itulah berasal ulama Haji Rasul, Hamka, M. Natsir, hingga sastrawan Nur St. Iskandar dan Leon Agusta.
Kategori kedua adalah karya sastra. Ketika melewati Padang Panjang, dijelaskan bahwa tempat pacuan kuda Bancah Laweh menjadi latar novel "Tenggelamnya Kapal van der Wijck". Perguruan Sumatra Thawalib dan kawasan sekitar Pasar Usang menjadi latar novel "Di Bawah Lindungan Ka'bah".
Kategori ketiga adalah peristiwa penting yang terjadi di daerah tertentu. Ketika melewati wilayah Kamang di Kabupaten Agam, dijelaskan tentang pemberontakan pajak. Begitu sampai di Silungkang, diceritakan tentang pemberontakan Silungkang, demikian seterusnya pada daerah lain.
Meski buku itu penting dan menarik, menurut penulis tidak banyak biro travel dan pemandu yang memanfaatkan peluang yang disajikannya.