SUMATERA BARAT — PT PLN (Persero) menyiapkan sejumlah insentif untuk mendorong peralihan kompor LPG ke kompor listrik, mulai dari diskon biaya penyambungan, potongan tarif pada jam tertentu, hingga diskon tambah daya. Insentif itu menyusul anggaran Rp815,56 miliar yang dialokasikan pemerintah dalam RAPBN 2027 untuk program konversi ini. Skema tersebut menyasar tiga segmen rumah tangga, dengan kelompok menengah ke atas sebagai yang paling berpeluang beralih lebih dulu.
Paragraf pembuka: Program kolaborasi bertajuk E-Stove rencananya diluncurkan akhir Oktober mendatang dengan melibatkan pabrikan kompor listrik dan pengembang perumahan. Executive Vice President Retail Sales and Customer Services PLN, Joni, menyebut skema insentif ini banyak meniru pola yang lebih dulu dipakai untuk mendorong adopsi kendaraan listrik.
Diskon dari Penyambungan sampai Tarif per Jam
PLN menawarkan potongan biaya penyambungan bagi pengembang perumahan yang menyiapkan instalasi listrik siap pakai untuk kompor listrik. Lewat skema itu, biaya penyambungan untuk perumahan tersebut akan mendapat harga khusus.
"Kami membuat program juga bagi developer perumahan yang istilahnya menyiapkan (daya listrik) yang ready untuk kompor listrik, maka biaya penyambungan itu kami kasih discount khusus untuk perumahan itu," kata Joni dalam diskusi bertema Electrification of Cooking to Power Indonesia's Next Growth, Jumat (9/10).
Insentif lain menyasar pola pemakaian harian. PLN berencana memberi potongan tarif pada jam-jam tertentu ketika utilisasi listrik sedang rendah, sehingga biaya memasak dengan listrik bisa lebih menarik dibanding LPG.
"Kami juga bisa memberikan discount di waktu tertentu untuk tarifnya. Jadi ini akan lebih menarik, oh jam-jam tertentu saat utilisasi listriknya kurang, kami bisa kasih discount," ucap Joni.
Tiga Segmen Rumah Tangga Jadi Sasaran
PLN membagi calon pengguna kompor listrik ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah masyarakat berpenghasilan rendah, yang menjadi target utama subsidi, termasuk bantuan alat masak dan kompor listrik dari pemerintah.
Kelompok kedua adalah masyarakat menengah. Sementara kelompok ketiga, masyarakat menengah ke atas, dinilai tidak terlalu mempermasalahkan biaya peralihan atau switching cost.
Menurut Joni, justru kelompok terakhir yang paling berpotensi beralih lebih cepat ke kompor listrik karena kendala biaya bukan penghambat utama bagi mereka.
Solusi buat Kendala Tambah Daya
Kendala daya listrik rumah tangga juga jadi perhatian PLN. Bagi pelanggan dengan daya 2.200 VA ke atas yang beralih ke kompor induksi atau kompor listrik, E-Stove menyiapkan potongan biaya tambah daya.
"Masyarakat yang tadinya katakanlah (daya listrik rumahnya) 2.200 VA ke atas ini beralih menggunakan kompor induksi atau kompor listrik, kami berikan discount tambah daya," ucap Joni.
Skema ini melengkapi rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang menyiapkan kompor listrik berdaya di bawah 900 kVA untuk rumah tangga. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan program tersebut jadi salah satu cara mendorong konversi dari kompor LPG.
Pemerintah memasukkan anggaran Rp815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 untuk membiayai program ini.
Penutup: Dorongan beralih ke kompor listrik berangkat dari beban subsidi energi yang kian membengkak, ditambah gejolak global yang memengaruhi pasokan minyak dan gas. Jika skema insentif PLN berjalan sesuai rencana, beban subsidi LPG berpotensi berkurang seiring bertambahnya rumah tangga yang memasak dengan listrik.