SUMATERA BARAT — World Meteorological Organization memprediksi peluang hampir 100 persen El Nino bertahan hingga Februari 2027, dengan indeks Nino 3.4 yang sudah menembus 2,5 derajat Celsius pada Agustus lalu. Climate Impact Lab Universitas Chicago memproyeksikan 451 ribu kematian akibat hari-hari ekstrem panas, dan Indonesia masuk daftar kedua paling berisiko dengan 19.300 jiwa.
Laporan WMO yang dirilis Kamis (8/10) menyebut El Nino telah terbentuk kuat dan intensitasnya meningkat cepat. Anomali suhu permukaan laut memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah, termasuk kekeringan panjang di Indonesia yang memperluas karhutla di sejumlah pulau.
Indeks Nino 3.4 mencapai 2,5 derajat Celsius pada Agustus tahun ini, mencatatkan Agustus terpanas dalam sejarah pengamatan. Para ahli memperkirakan indeks akan terus naik menembus rata-rata positif 3,0 derajat Celsius dan bertahan hingga tahun depan.
Berapa Banyak Nyawa yang Berisiko Hilang
Climate Impact Lab di Universitas Chicago memetakan dampak nyata perubahan iklim dan memproyeksikan Super El Nino tahun ini menyebabkan 451 ribu kematian akibat hari-hari yang sangat panas. Angka itu dihitung dari data historis beberapa dekade yang menghubungkan suhu dengan kematian di tiap wilayah.
"Hasil studi menunjukkan ada sekitar 451 ribu orang yang berisiko meninggal dalam beberapa bulan ke depan akibat El Nino," kata Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab.
Indonesia menyumbang 19.300 kematian dalam estimasi tersebut, urutan kedua setelah Nigeria yang diproyeksikan mencapai 31.400 jiwa. Proyeksi ini belum memasukkan kematian akibat bencana kekeringan, kebakaran hutan, atau banjir.
"Kelompok yang paling rentan adalah kelompok usia lanjut, kemudian bayi," kata Emily Grover-Kopec, Direktur Energy & Climate di Rhodium Group yang terlibat dalam studi tersebut.
Mengapa Harga Beras dan Pasokan Pangan Jadi Taruhan
Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota ITB Djoko Santoso Abi Suroso bersama Manajer Riset dan Proyek di Pusat Perubahan Iklim ITB Isnan Fauzi menganalisis data El Nino 2015-2016 dan 2023-2024. Keduanya menemukan penurunan produktivitas lahan pertanian yang menekan produksi padi pada periode tersebut.
"Jika Super El Niño ini benar terjadi hingga awal 2027, maka terdapat potensi pergeseran jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, sehingga jadwal panen akan terancam dan merambat menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga pangan, khususnya beras," tulis mereka di The Conversation.
Tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada bersama Department of Economics College of William and Mary mengungkap kaitan suhu udara dengan penurunan pendapatan dan produktivitas. Produktivitas optimal pada temperatur rata-rata tahunan 25-26 derajat Celsius, dan menurun signifikan setelah melewati titik itu.
"Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang membuat pekerja melambat dan lebih sering beristirahat. Suhu panas juga mengganggu kemampuan kognitif pekerja dalam mengambil keputusan, sehingga memperlambat reaksi dan mengurangi akurasi kerja," kata peneliti Esa Azali Asyahid, dikutip dari situs resmi UGM.
Dampak Berkepanjangan di Asia Tenggara
Ekonom di Departemen Penelitian dan Dampak Pembangunan Ekonomi Asian Development Bank, Roshen Fernando, menilai El Nino berisiko membawa dampak berkepanjangan di wilayah rentan seperti negara berkembang yang mengalami kekeringan. Sektor pertanian mendominasi produksi dan lapangan kerja di sebagian besar Asia Tenggara.
"Keluarga yang menjual ternaknya, memakan hasil panen berasnya sendiri, atau mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah untuk bertahan hidup di tahun yang buruk, akan memulai tahun berikutnya dengan lebih miskin dan kurang produktif," tulis Fernando di laman ADB, Jumat (9/10).
Dampak ekonomi El Nino diperburuk kondisi geopolitik: utang negara yang meningkat pasca pandemi, konflik di Timur Tengah, perang di Ukraina, dan gangguan pengiriman di Laut Merah. Kombinasi tekanan iklim dan ketidakpastian global membuat ruang fiskal negara berkembang makin sempit untuk menyerap guncangan pangan dan energi.
Bagi pelaku bisnis digital dan investor, sinyal ini relevan pada sektor agritech, logistik pangan, dan asuransi pertanian yang bakal menghadapi lonjakan permintaan mitigasi risiko. Pemantauan indeks Nino 3.4 sepanjang kuartal IV 2026 menjadi indikator awal apakah skenario terburuk hingga Februari 2027 benar-benar terjadi.