PASAMAN — Ketua PB Porprov XVI Sumbar 2026, Editiawarman, menilai keikutsertaan Pasaman di 28 cabor sebagai bukti keseriusan daerah membina atlet. Menurut dia, raihan 15 emas dari jumlah cabor yang luas itu bukan hasil instan, melainkan buah dari kerja pembinaan yang berjalan di tingkat kabupaten.
Apresiasi tersebut ia sampaikan dalam rangkaian evaluasi pelaksanaan Porprov XVI yang mempertemukan 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Bagi Editiawarman, hasil Pasaman layak jadi pijakan untuk menaikkan target pada penyelenggaraan berikutnya.
"Selamat Kabupaten Pasaman yang mampu ikut 28 cabor dengan 15 emas. Semoga ke depan lebih baik lagi, baik raihan medali maupun peringkat," ujar Editiawarman.
Empat Unsur yang Dinilai Menentukan Prestasi Daerah
Editiawarman menyebut peningkatan prestasi tidak bisa disandarkan pada kemampuan atlet semata. Ada tiga unsur lain yang sama menentukan: kualitas pelatih, kesiapan ofisial, dan dukungan anggaran.
Menurut dia, keempat unsur itu harus dibenahi bersamaan agar pembinaan berjalan terarah dan berkelanjutan. Daerah yang hanya mengandalkan bakat atlet tanpa menopang sisi pelatih dan pendanaan berisiko kehilangan momentum.
"Ke depan dapat diupayakan peningkatan kualitas atlet, pelatih, ofisial, dan anggaran," katanya.
Kemandirian Pembinaan Jadi Sorotan
Selain kualitas sumber daya dan pendanaan, Editiawarman menyoroti soal kemandirian. Setiap kabupaten dan kota diminta membina atletnya sendiri, bukan bergantung pada atlet daerah lain yang dibesarkan pihak lain.
Praktik mengandalkan atlet dari daerah lain, menurut dia, membuat pembinaan tidak berakar. Daerah yang melakukannya akan kesulitan mempertahankan prestasi saat atlet pinjaman itu tidak lagi tersedia.
"Pastikan kabupaten/kota melakukan pembinaan sendiri di berbagai cabor, tidak mengandalkan atlet dari daerah dan dibina kabupaten/kota lain," tegasnya.
Tata Kelola Cabor dan KONI Diminta Dibenahi
Editiawarman juga meminta pembenahan manajemen di tingkat cabang olahraga dan Komite Olahraga Nasional Indonesia. Penguatan tata kelola diperlukan agar kegiatan, organisasi, dan penggunaan keuangan berjalan sesuai aturan.
Menurut dia, pengelolaan yang tertib berdampak langsung pada produktivitas pembinaan. Tanpa itu, anggaran yang tersedia tidak otomatis berubah menjadi prestasi.
"Tingkatkan juga pembinaan manajemen cabor dan KONI, supaya pengelolaan kegiatan, organisasi, dan keuangan berjalan sesuai aturan serta produktif," ujarnya.
Evaluasi Jadi Bekal Menuju Porprov Berikutnya
Bagi Pasaman, raihan 15 emas dari 28 cabor yang diikuti menjadi bahan evaluasi tersendiri. Penilaian terhadap hasil pertandingan, kualitas atlet, dan sistem pembinaan di tiap cabor disebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan kontingen berikutnya.
Editiawarman berharap seluruh kabupaten dan kota menjadikan Porprov XVI sebagai bahan perbaikan. Dengan pembinaan yang lebih terarah, dukungan anggaran memadai, dan manajemen organisasi yang tertib, capaian olahraga Sumatera Barat diharapkan terus naik pada penyelenggaraan berikutnya.