SUMATERA BARAT — PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan stok pupuk nasional 1,81 juta ton untuk musim tanam Oktober 2026–Maret 2027, terdiri dari 1,39 juta ton bersubsidi dan 420 ribu ton nonsubsidi. Stok bersubsidi itu berada di atas batas aman (safety stock) dan cukup menutup kebutuhan petani terdaftar hingga 46 hari ke depan. Ketersediaan ini menjadi penopang utama target swasembada pangan pemerintah.
Paragraf pembuka: Kepastian pasokan itu disampaikan VP Perencanaan Penjualan Ritel Pupuk Indonesia, Saeful Huda Rijaludin, dalam webinar "Optimalisasi Pupuk Bersubsidi pada Musim Tanam Oktober-Maret dan Sosialisasi e-RDKK Tahun 2027" yang digelar Sinar Tani, Rabu (14/10/2026). Menurut dia, penebusan pupuk bersubsidi rata-rata mencapai 30 ribu ton per hari, sehingga stok yang ada saat ini menutup kebutuhan petani terdaftar hingga 46 hari ke depan.
Pupuk Indonesia tidak hanya mengandalkan stok yang ada. Perusahaan pelat merah itu terus melakukan building stock agar pasokan tetap terjaga sepanjang musim tanam, seraya mengawal penyaluran sesuai prinsip 7T: tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, mutu, dan sasaran penerima.
Rincian Stok per Jenis Pupuk
Berdasarkan data per 12 Oktober 2026, stok pupuk bersubsidi nasional terdiri atas 838.825 ton Urea, 460.299 ton NPK, dan 18.733 ton NPK Khusus Kakao. Tersedia pula 57.845 ton pupuk organik, 11.105 ton SP-36, dan 3.783 ton ZA.
Untuk jalur nonsubsidi, stok yang disiapkan mencakup 358.973 ton Urea, 22.912 ton NPK, dan 37.669 ton ZA. Petani yang tidak terdaftar dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) bisa memanfaatkan pasokan nonsubsidi ini di kios-kios resmi.
"Kami dari Pupuk Indonesia berupaya seoptimal mungkin untuk menjaga pasokan atau stok pupuk bersubsidi sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah, agar pupuk tersedia dengan baik di PPTS dan bisa ditebus oleh petani sesuai regulasi," ujar Huda.
Realisasi Penyaluran dan Sisa Alokasi
Hingga 9 Oktober 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi nasional mencapai 7,1 juta ton atau 72,11 persen dari total alokasi yang ditetapkan pemerintah. Artinya, masih ada ruang penebusan yang cukup besar bagi petani hingga akhir periode alokasi.
Ketua Tim Kerja Alokasi Pupuk Bersubsidi Direktorat Pupuk Kementerian Pertanian, Yustiana Retno Widjawati, menyebut sisa alokasi yang masih dapat ditebus petani mencapai 2.769.963 ton. Pemerintah pun melakukan realokasi dengan mempertimbangkan tingkat penebusan di tiap provinsi.
"Alokasi pupuk bersubsidi dari provinsi dengan tingkat penebusan yang masih rendah dialihkan ke provinsi yang penebusannya sudah tinggi. Langkah ini dilakukan agar alokasi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan petani," kata Yustiana.
Pengawasan Digital dari Pabrik hingga Petani
Untuk memperkuat pengawasan, Pupuk Indonesia mengoperasikan Command Center yang memantau perjalanan pupuk dari pabrik hingga ke petani secara digital dan real-time. Perusahaan juga memasang CCTV di seluruh gudang untuk memantau kondisi serta stok riil.
Transaksi penebusan dapat dilacak hingga per NIK petani. "Kami bisa memantau distribusinya dari hulu ke hilir, bisa mengecek jika ditemukan trouble baik operasional maupun administrasi, kita bisa melakukan verifikasi stok dengan baik," tandas Huda.
e-RDKK 2027 Jadi Kunci Tepat Sasaran
Selain kesiapan stok dan distribusi, Pupuk Indonesia mendorong optimalisasi penginputan data e-RDKK untuk tahun 2027. Proses input yang dibuka hingga 25 Oktober 2026 menjadi tahapan penting agar pupuk bersubsidi dialokasikan kepada petani yang berhak.
Huda menegaskan keakuratan data petani adalah fondasi penyaluran pupuk bersubsidi yang tepat sasaran. Karena itu, ia mengajak penyuluh dan seluruh pihak terkait mengoptimalkan pendataan serta memastikan kebutuhan petani tercatat dengan benar.
"Melalui kesiapan stok, penguatan jaringan distribusi, dan pengawasan berbasis digital, Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan mandat pemerintah secara optimal. Upaya ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan petani selama musim tanam Oktober 2026–Maret 2027 sekaligus memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan nasional," tutupnya.
Penutup: Dengan stok 1,81 juta ton dan pengawasan digital hingga level NIK, Pupuk Indonesia memegang peran sentral menjaga pasokan pupuk di musim tanam kali ini. Keberhasilan realokasi alokasi antarprovinsi dan akurasi data e-RDKK akan menentukan apakah pupuk benar-benar sampai ke tangan petani yang berhak.