SUMATERA BARAT — Pemerintah memastikan pasokan gas bumi dari Lapangan Jangkrik di lepas pantai Kalimantan Timur akan diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri sebelum diekspor. Fasilitas produksi yang dikelola Eni bersama mitranya itu menambah pasokan hingga 290 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), dengan target produksi portofolio mencapai 3 miliar kaki kubik per hari pada 2029.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan arah kebijakan energi nasional kini berpihak pada pemenuhan domestik. Keputusan itu diambil setelah rapat kabinet paripurna bersama Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan sumber daya alam Indonesia dipakai untuk kepentingan dalam negeri lebih dulu. Bahlil menyebut kondisi global menuntut Indonesia masuk ke fase bertahan.
Tambahan Pasokan dari Lapangan Jangkrik
Fasilitas produksi gas Jangkrik di perairan Kalimantan Timur resmi beroperasi dan menyumbang 290 MMSCFD ke pasokan nasional. Produksi awal 60 MMSCFD sudah mengalir sejak 9 Oktober 2026, sementara 230 MMSCFD dari dua sumur tambahan dijadwalkan menyusul pada akhir bulan.
Lapangan ini dikelola Eni bersama mitra strategisnya. Bahlil menargetkan produksi dari seluruh portofolio proyek Eni di kawasan tersebut menembus sekitar 3 miliar standar kaki kubik per hari (BCFD) pada 2029. Angka itu menjadi salah satu tumpuan pemerintah untuk menutup kebutuhan gas dalam negeri yang terus naik.
"Dengan penambahan hari ini 290 MM, dan di 2028–2029 akan mencapai 3.000 MM, maka saya menindaklanjuti arahan Bapak Presiden, kita akan memprioritaskan kebutuhan domestik terlebih dahulu, setelah itu sebagiannya kita akan melakukan ekspor," ujar Bahlil saat meresmikan fasilitas tersebut, Kamis (22/10/2026).
Ekspor Hanya Setelah Domestik Terpenuhi
Pemerintah tidak menutup keran ekspor gas. Namun Bahlil menegaskan pengiriman ke luar negeri baru dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri benar-benar terpenuhi sepenuhnya. Skema ini membalik kebiasaan lama ketika sebagian produksi gas nasional dialokasikan ke pasar ekspor lebih dulu.
Bagi industri dalam negeri, tambahan pasokan berarti angin segar. Pabrik pupuk, petrokimia, dan pembangkit listrik selama ini kerap mengeluhkan keterbatasan gas sebagai bahan baku maupun sumber energi. Pasokan yang lebih pasti dinilai bisa menjaga tingkat utilisasi pabrik dan menekan biaya produksi.
Bahlil juga meminta peningkatan produksi gas dibarengi pembangunan industri hilir. Pemerintah berencana membangun pusat hilirisasi petrokimia di Kalimantan Timur dengan gas sebagai bahan baku utama, agar nilai tambah tidak seluruhnya dinikmati di luar negeri.
Manfaat Ekonomi untuk Daerah Penghasil
Daerah penghasil sumber daya alam, menurut Bahlil, harus mendapat manfaat ekonomi yang lebih besar dari aktivitas produksi dan pengolahan energi. Pengembangan industri hilir di Kalimantan Timur diharapkan membuka lapangan kerja baru, menaikkan pendapatan warga, dan memperkuat perekonomian setempat.
Sejumlah lapangan gas lain di wilayah Kalimantan Timur akan dikembangkan secara berkesinambungan. Pemerintah memandang langkah itu sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak harga dan pasokan global yang belum stabil.
Bagi investor, pernyataan Bahlil memberi sinyal bahwa proyek gas hulu tetap mendapat dukungan, dengan catatan hasilnya diarahkan ke pasar domestik. Kepastian alokasi ini menjadi pertimbangan penting bagi kontraktor kontrak kerja sama yang sedang menghitung keekonomian lapangan baru.
Penutup: Prioritas domestik atas gas Jangkrik menandai pergeseran cara Indonesia mengelola sumber daya energinya, dari pengejar devisa menjadi penjaga pasokan industri dan rumah tangga. Keberhasilan kebijakan ini akan bergantung pada realisasi tambahan produksi hingga 2029 dan kesiapan industri hilir menyerapnya.