SUMATERA BARAT — Dennis Adhiswara menyebut profesi aktor film sebagai pekerjaan proyekan yang kontraknya bisa berakhir kapan saja, dalam podcast Kaum Tengah Liputan6.com episode perdana yang dirilis 15 Oktober 2026. Aktor 44 tahun itu menegaskan tidak semua pemain film berada di kelas ekonomi atas, karena bayaran antarartis berbeda-beda. Ia pun menyebut banyak aktor yang rate card-nya masih di bawah rekan-rekan yang lebih top.
Aktor Dennis Adhiswara membuka sisi lain industri film Indonesia yang jarang dibahas publik: status kerja para pemainnya. Dalam podcast Kaum Tengah Liputan6.com berjudul Safir Senduk & Dennis Adhiswara Bongkar Trik Survive: Mending Sewa vs KPR?, ia menjelaskan bahwa bekerja di film berarti terikat kontrak per proyek, bukan pekerjaan tetap.
Episode perdana podcast tersebut dirilis 15 Oktober 2026 dan menghadirkan Dennis bersama perencana keuangan Safir Senduk. Topiknya memang soal bertahan hidup secara finansial, dan pengalaman Dennis sebagai aktor jadi salah satu bahan diskusi.
Kontrak Selesai, Status Kerja Berakhir
Dennis menyebut kesadaran soal status kerja ini harus ditanamkan sejak awal. Setiap kontrak baru berarti proyek baru, dan begitu filmnya rampung, hubungan kerja ikut selesai.
"Kesibukannya yang namanya pekerja film itu pekerja proyekan. Kita harus sadari itu dulu. Setiap kali ada kontrak baru itu berarti ada proyek baru. Begitu filmnya sudah selesai itu sebenarnya kami di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Iya dong, karena kontrak sudah selesai gitu," ungkap aktor 44 tahun itu.
Karena itu, Dennis tidak hanya mengandalkan pendapatan dari syuting. Di waktu luang, ia mencari sumber pemasukan lain agar arus kas tetap jalan.
"Jadi yang saya lakukan adalah selain syuting ya juga menciptakan saluran pendapatan baru. Misalkan jadi affiliator. Misalkan bantu jagain kos-kosan orang tua. Pokoknya semua yang bisa menghasilkan uang di waktu luang itu saya lakuin," jelas Dennis Adhiswara.
Anggapan Semua Aktor Bergelimang Harta
Di masyarakat, profesi aktor sering dikaitkan dengan gaya hidup mewah. Dennis tidak membantah anggapan itu sepenuhnya, tapi ia menilai gambaran tersebut tidak mewakili seluruh industri.
"Betul itu adalah anggapan. Karena sebenarnya seperti halnya pekerjaan lain, juga ada kok teman-teman yang profesinya secara ekonomi ada yang kelas atas, menengah, dan bawahnya dan segala macam. Itu ada bahkan di dunia film sekalipun," paparnya.
Ia menempatkan diri sebagai orang yang beruntung dibanding sebagian pekerja lain. Meski begitu, ia menegaskan kemapanan itu bukan kondisi umum semua aktor.
Rate Card Aktor Tidak Sama Rata
Dennis menyoroti kesenjangan bayaran antarartis. Menurut dia, besaran honor dipengaruhi popularitas, jumlah pengikut di media sosial, hingga rekam jejak film yang sukses di box office.
"Mungkin kalau misalkan kita bisa dibilang lebih enak, ya lebih enak dari sebagian, harus disyukuri itu. Tapi nggak semuanya kelas atas kok. Banyak yang rate card nya itu masih di bawahnya teman-teman yang lebih top, yang followersnya lebih banyak, yang filmnya mungkin lebih box office," ungkapnya.
Pernyataan Dennis memberi gambaran bahwa pendapatan di dunia akting bertingkat tajam. Aktor dengan nama besar dan basis penggemar luas punya daya tawar berbeda dibanding pemain yang baru membangun karier.
Kenapa Topik Ini Relevan Sekarang
Industri film Indonesia sedang tumbuh, tapi kesejahteraan pekerja di belakangnya belum tentu merata. Dennis menyoroti hal ini dari sisi paling dasar: kontrak dan kepastian penghasilan.
Pilihannya menambah penghasilan lewat afiliasi dan mengurus properti keluarga menunjukkan pola pikir pekerja kreatif yang harus mandiri secara finansial. Tidak ada jaminan pendapatan rutin dari satu proyek ke proyek berikutnya.
Bagi penonton, pernyataan Dennis menjadi pengingat bahwa wajah yang rutin muncul di layar lebar tidak otomatis berarti kondisi finansialnya aman. Di balik glamor industri hiburan, ada pekerja proyekan yang harus menghitung ulang pemasukan setiap kali kontrak berakhir.