PADANG — PT Hutama Karya (HK) Persero bergerak cepat memulihkan infrastruktur air bersih di Sumatera Barat yang porak-poranda akibat banjir bandang. Hasilnya, dalam waktu kurang dari 30 hari sejak penanganan dimulai, sebanyak 21.082 sambungan rumah (SR) di Kota Padang sudah kembali mengalir.
Berdasarkan investigasi teknis dan pemetaan geografis, HK menemukan sejumlah titik kritis yang membutuhkan penanganan darurat dengan ketelitian tinggi. Di Kota Padang, kerusakan terparah terjadi di SPAM Palukahan. Pipa transmisi berdiameter 400 milimeter dari intake ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) sepanjang satu kilometer putus total. Tak hanya itu, pipa transmisi serupa di Balai Gadang juga putus sepanjang 200 meter akibat terjangan banjir bandang.
Kerusakan juga melanda mercu bendung eksisting di SPAM Guo Kuranji. Untuk mengatasinya, tim HK membangun mercu temporary menggunakan material geotekstil woven yang dijahit tiga lapis dan diproteksi boulder (batu besar). Langkah darurat ini berhasil mengamankan pasokan air bagi sekitar 6.312 sambungan aktif pelanggan di kawasan tersebut.
Di Kabupaten Agam, tantangan terberat bukan hanya memperbaiki jaringan pipa SPAM Batu Kambing yang putus, tetapi juga kebutuhan mendesak pembangunan perpipaan baru. Infrastruktur ini vital untuk mendukung fasilitas di enam lokasi hunian sementara (huntara) di Agam dan dua lokasi huntara di Kabupaten Pesisir Selatan.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, memastikan akses air bersih kini telah mengalir bagi 399 kepala keluarga yang menempati delapan lokasi huntara tersebut. "Penanganan SPAM pascabencana di Sumatera Barat ini menjadi salah satu prioritas utama kami demi mengembalikan hak masyarakat atas akses air bersih yang sempat terputus akibat banjir bandang," kata Hamdani di Padang, Selasa.
Manajemen HK menerapkan pendekatan berbeda di tiap wilayah. Untuk Kota Padang, pengerjaan dilakukan secara swakelola. Sementara di Kabupaten Agam dan Pesisir Selatan, HK menerapkan sistem subkontraktor yang didukung tim survei, pelaksana, dan personel teknik berkemampuan mobilitas tinggi.
Seluruh rangkaian pengerjaan darurat dan rehabilitasi ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada 22 Desember 2026. Proyek ini resmi dimulai pada 23 Desember 2025, menandai komitmen BUMN untuk memulihkan infrastruktur vital pascabencana di Ranah Minang.