Digitalisasi Pariwisata Sumbar: Bukan Sekadar Viral, Tapi Butuh Cerita yang Tertata dan Data yang Terukur

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Sabtu, 06 Juni 2026 | 11:15:31 WIB
Revi Marta menyoroti pentingnya informasi praktis dalam promosi destinasi pariwisata Sumbar.

PADANG — Revi Marta, dosen Ilmu Komunikasi Unand, menilai banyak akun promosi destinasi di Sumbar masih terjebak pada estetika visual semata. Foto-foto indah bertebaran, tetapi calon wisatawan justru kebingungan mencari informasi praktis seperti apa yang bisa dilakukan, berapa biayanya, kapan waktu terbaik berkunjung, dan siapa kontak pengelola lokal.

Informasi Praktis Lebih Penting dari Sekadar Foto Estetik

"Konten yang efektif menggabungkan visual bersih dengan informasi ringkas. Satu grafis sederhana yang memuat harga, akses transportasi, titik temu, dan kontak pelaku lokal akan lebih menentukan keputusan ketimbang estetika semata," ujar Revi.

Ia mencontohkan, cerita tentang rencana setengah hari di sebuah nagari, jalur jalan kaki yang ramah keluarga, atau agenda budaya yang bisa diikuti justru lebih ampuh mempersingkat jarak antara tombol "like" dan keputusan "berangkat". Narasi tentang pantai di Mandeh, ombak Mentawai, atau bahkan fakta sederhana "sulit mencari makanan tak enak di Sumbar" menjadi kail yang relevan bagi wisatawan masa kini.

Orkestrasi Promosi dan Peran Kampus sebagai Laboratorium Konten

Revi menekankan, promosi yang efektif membutuhkan orkestrasi lintas pelaku. Destinasi yang tumbuh sehat biasanya memiliki gugus kerja yang melibatkan pemerintah daerah, asosiasi hotel dan restoran, komunitas pemandu, UMKM, hingga kampus.

Peran gugus kerja ini jelas: menyatukan pesan inti, menyusun kalender konten bersama, menjaga standar respons di kanal resmi, dan memverifikasi daftar pelaku lokal. "Jika peran dibagi rapi, unggahan dari banyak akun saling menguatkan, bukan saling menenggelamkan," kata Revi.

Kampus, menurutnya, bisa berperan sebagai "laboratorium konten". Mahasiswa dapat memproduksi materi berbasis riset kecil, sehingga destinasi mendapat pasokan konten berkelanjutan tanpa harus menunggu proyek atau kunjungan pejabat.

Kapasitas SDM Jadi Pengungkit, Evaluasi Tak Perlu Rumit

Di sisi teknis, tantangan utama adalah kapasitas sumber daya manusia. Banyak pengelola destinasi kecil memiliki semangat, tetapi terkendala keterampilan dasar. Pelatihan praktis seperti fotografi ponsel, penulisan caption informatif, dan etika membalas komentar dinilai cepat terasa dampaknya.

"Tambahkan pedoman gaya singkat agar visual dan bahasa konsisten di berbagai akun tanpa membuat proses kreatif kaku," sarannya.

Agar promosi tidak sekadar menjadi hiasan, Revi mendorong pengukuran sederhana. Cukup dengan empat indikator: ritme unggahan mingguan, kecepatan menjawab pertanyaan, asal audiens, dan tingkat konversi dari pesan masuk ke reservasi. "Data tipis ini cukup untuk menentukan format mana yang dipertahankan dan mana yang dihentikan," ujarnya.

Keberlanjutan Bukan Emb-el, Tapi Syarat Mutlak

Revi mengingatkan, keberlanjutan bukan sekadar embel-embel. Informasi tentang kapasitas harian, jam kunjung, titik kumpul, dan etika di ruang adat harus selalu hadir berdampingan dengan rute dan harga. "Narasi yang menegakkan batas justru melindungi modal utama: alam, budaya, dan keramahan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan pengelola untuk tidak menjanjikan hal-hal yang tidak realistis. Jangan menjanjikan cuaca sempurna, lokasi selalu sepi, atau "spot rahasia" yang sebenarnya sulit diakses. "Pengelolaan ekspektasi ikut menentukan kualitas ulasan," pungkasnya.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: padek.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top