PADANG — Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand) tidak hanya menggelar diskusi akademik, tetapi juga langsung turun ke lapangan. Melalui program Enhancing Quality Education for International University Recognition (EQUITY) Project 2026, mereka memperkenalkan konsep integrasi bioteknologi tanaman dan smart agriculture kepada para petani di Sumatera Barat.
Kegiatan yang diketuai oleh Micko Tomas, S.T., M.T., dosen Departemen Teknik Elektro ini berlangsung selama dua hari. Hari pertama, Senin (8/6), diisi dengan seminar internasional di Ruang Seminar Gedung I Fakultas Teknik Unand. Hari kedua, Selasa (9/6), tim pengabdian langsung turun ke kelompok tani binaan Yayasan Aksi Sigap Peduli (ASP).
Seminar menghadirkan Khurram Bashir, Ph.D. dari Lahore University of Management Sciences (Pakistan) sebagai narasumber utama. Ia menyampaikan kuliah umum bertema Plant Biotechnology and Climate Resilience. Materinya menyoroti strategi pengembangan varietas unggul tanaman yang tahan terhadap cekaman lingkungan serta teknik biofortifikasi untuk mendukung ketahanan pangan global.
Pada sesi workshop, Dr.Eng. Zulkarnaini, M.T. memaparkan konsep pertanian presisi (precision agriculture). Teknologi ini memanfaatkan sistem sensor, Internet of Things (IoT), dan pemantauan berbasis data secara real-time untuk mengoptimalkan pengelolaan lahan pertanian.
Keesokan harinya, tim pengabdian yang difasilitasi oleh Yayasan ASP memberikan penyuluhan langsung kepada Kelompok Tani Minang Saiyo. Khurram Bashir, Ph.D. bersama Micko Tomas memberikan materi tentang pemanfaatan bioteknologi untuk meningkatkan produktivitas, termasuk pengenalan varietas tanaman tahan cekaman dan strategi adaptasi iklim.
Sementara itu, Lailatun Najmi, S.Si., M.P. memberikan penyuluhan spesifik mengenai identifikasi hama dan penyakit tanaman padi. Ia juga memperkenalkan teknik pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan, sebuah kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman akibat perubahan cuaca ekstrem.
Konsep smart agriculture yang diperkenalkan mencakup pemanfaatan sensor lingkungan dan sistem monitoring berbasis IoT. Melalui teknologi ini, petani dapat memantau kelembaban tanah, suhu lingkungan, dan kondisi air secara real-time dari jarak jauh. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengambil keputusan yang lebih tepat dalam budidaya tanaman, seperti kapan waktu yang pas untuk menyiram atau memupuk.
Fakultas Teknik Unand juga menargetkan implementasi sistem monitoring berbasis sensor pada lahan percontohan (pilot project). Lahan ini akan menjadi model yang bisa direplikasi oleh kelompok tani lain di Sumatera Barat. “Teknologi digital ini diharapkan bisa meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk, serta membantu petani beradaptasi dengan perubahan iklim,” ujar Micko Tomas dalam keterangannya.
Program ini lahir sebagai respons terhadap sejumlah tantangan sektor pertanian di Sumatera Barat. Mulai dari dampak perubahan iklim yang meningkatkan risiko gagal panen, keterbatasan adopsi teknologi modern di kalangan petani, hingga kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Keterlibatan Yayasan Aksi Sigap Peduli (ASP) menjadi jembatan penting dalam program ini. Sebagai mitra strategis, ASP memastikan transfer pengetahuan dan teknologi dari dunia akademik dapat diterima dan diterapkan secara efektif oleh masyarakat sasaran. Hasilnya, pemahaman peserta mengenai integrasi bioteknologi dan smart agriculture meningkat, dan kapasitas Kelompok Tani Minang Saiyo dalam mengadopsi teknologi pertanian modern pun mulai terbangun.