PADANG — Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Sumatera Barat, M. Rifki, menyebut momen ini sebagai terobosan bersejarah. Pasalnya, selama puluhan tahun penyelenggaraan haji, pesawat yang disewa untuk menjemput jamaah di Arab Saudi selalu terbang dalam kondisi kosong.
"Setelah puluhan tahun penyelenggaraan haji berlangsung, baru kali ini kita menyaksikan pesawat yang disewa untuk operasional haji juga dimanfaatkan untuk membawa jamaah umrah," ujar M. Rifki di Kota Padang, Selasa.
Pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut jamaah umrah asal Ranah Minang tersebut akan melanjutkan misinya menjemput jamaah haji Indonesia yang masih berada di Madinah. Konsep ini, menurut Rifki, merupakan implementasi visi Kemenag dalam membangun ekosistem ekonomi haji dan umrah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Pemerintah Arab Saudi hanya mengizinkan penyelenggaraan umrah setelah seluruh rangkaian ibadah haji tuntas. Namun tahun ini, jamaah umrah sudah bisa diberangkatkan meskipun jamaah haji masih berada di Makkah dan Madinah.
Rifki menjelaskan, konsep ekosistem ekonomi tidak hanya berbicara soal pelayanan ibadah. "Jadi tidak hanya memberangkatkan jamaah, tetapi juga bagaimana setiap proses yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan manfaat yang lebih besar," katanya.
Langkah ini menjadi terobosan baru dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia. Dengan memanfaatkan pesawat penjemput untuk mengangkut jamaah umrah, biaya operasional yang selama ini terbuang sia-sia bisa ditekan dan memberikan nilai tambah bagi ekosistem penyelenggaraan ibadah.
"Hari ini kita sama-sama melepas keberangkatan jamaah umrah perdana 1448 Hijriah dari Padang. Istimewanya, keberangkatan ini menggunakan pesawat yang akan menjemput jamaah haji Indonesia di Madinah," ujar dia menegaskan.