PARIAMAN — Prosesi Maatam menjadi penanda puncak kesedihan dalam rangkaian perayaan Tabuik di Pariaman. Kelompok Tabuik Pasa memainkan gandang tasa dengan irama sendu di sepanjang jalan utama kota, menghadirkan suasana khidmat yang kontras dengan hiruk-pikuk karnaval sebelumnya.
Maatam secara harfiah berarti meratap. Dalam tradisi Tabuik, prosesi ini menggambarkan duka cita mendalam atas penderitaan yang dialami Husain, cucu Nabi Muhammad, dalam peristiwa Perang Karbala. Bunyi gandang tasa yang dimainkan bukan sekadar musik, melainkan simbol ratapan kolektif masyarakat.
Pemukul gandang dari Kelompok Tabuik Pasa bergantian memukul alat musik tradisional itu dengan ritme lambat dan berat. Suara tabuhan bergema di antara rumah-rumah warga yang turut memasang lampu penerangan dan umbul-umbul hitam sebagai tanda berkabung.
Prosesi Maatam merupakan kelanjutan dari ritual Hoyak Tabuik yang lebih dulu digelar. Jika Hoyak Tabuik identik dengan arak-arakan dan kegembiraan massa, Maatam justru menjadi antitesisnya: hening, syahdu, dan penuh makna spiritual.
Pemerintah Kota Pariaman melalui Dinas Pariwisata mencatat, perayaan Tabuik tahun ini masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang digagas Kementerian Pariwisata. Status tersebut membuat atraksi budaya ini mendapat promosi lebih luas ke tingkat nasional.
Meskipun bermuatan ratapan, prosesi Maatam tetap menyedot perhatian banyak orang. Warga setempat dan wisatawan berjejer di tepi jalan, merekam momen menggunakan ponsel mereka. Beberapa di antaranya tampak larut dalam suasana, ikut mengheningkan diri saat iring-iringan lewat.
Seorang pengunjung asal Padang, Rina (34), mengaku baru pertama kali menyaksikan Maatam secara langsung. "Saya kira Tabuik hanya soal arak-arakan. Ternyata ada prosesi yang lebih sunyi dan dalam seperti ini," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Kelompok Tabuik Pasa sendiri merupakan salah satu dari dua kelompok utama yang secara turun-temurun menyelenggarakan ritual ini di Pariaman. Mereka menjaga otentisitas alat musik, kostum, dan gerak langkah yang diwariskan sejak abad ke-19.
Dengan masuknya Tabuik dalam KEN 2026, pemerintah berharap tradisi ini tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang berkelanjutan. Prosesi Maatam, dengan segala kesederhanaan dan kedalaman maknanya, menjadi bukti bahwa pariwisata dan spiritualitas bisa berjalan beriringan.