LUBUK BASUNG — Stok beras cadangan Pemerintah Kabupaten Agam di Perum Bulog saat ini berada di titik kritis. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam Rosva Deswira mengungkapkan, dari total 22 ton beras yang disimpan, hanya tersisa 800 kilogram.
"Sisa 800 kilogram itu karena telah dikeluarkan saat bencana hidrometeorologi melanda daerah itu pada akhir November 2025," kata Rosva di Lubuk Basung, Senin.
Untuk mengisi kembali cadangan yang menipis, Pemkab Agam menyiapkan anggaran Rp1,6 miliar yang bersumber dari Transfer Ke Daerah (TKD) tahun 2026. Sebagian besar dana itu akan digunakan untuk membeli beras sebanyak 120 ton.
"Dana ini bakal digunakan untuk membeli beras 120 ton dan sisanya untuk kebutuhan lainnya," ujar Rosva.
Pengadaan beras sebanyak 120 ton itu tidak sembarangan. Angka tersebut melebihi ketetapan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang mewajibkan Pemkab Agam menyediakan 112 ton beras berdasarkan jumlah penduduk.
Kebijakan ini merujuk pada Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan Atas Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 15 Tahun 2023 tentang Tata Cara Penghitungan Jumlah Cadangan Beras Pemerintah Daerah.
"Dari penetapan itu, bahwasanya Agam harus menyediakan beras 112 ton dan kita melakukan pengadaan 120 ton," tambah Rosva.
Meski anggaran sudah dialokasikan, proses pembelian beras belum bisa dilakukan. Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam masih menunggu penetapan harga per kilogram dari Bapanas.
"Apabila penetapan harga sudah turun, maka kami langsung melakukan pengadaan," kata Rosva.
Dengan cadangan yang hanya 800 kilogram, Agam berada dalam posisi rentan. Rosva menyebut, jika bencana alam kembali terjadi sebelum pengadaan beras baru rampung, pihaknya akan meminta bantuan ke Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
"Kita bakal mengajukan permintaan beras karena pasokan cadangan pangan tinggal sedikit," ujarnya.