SIMPANG EMPAT — Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pasaman Barat, Harmen, mengatakan rehabilitasi akan dilakukan di Kecamatan Talamau, Luhak Nan Duo, Kinali, dan Gunung Tuleh. Kerusakan di masing-masing titik bervariasi, mulai dari kategori ringan, sedang, hingga berat.
Harmen menjelaskan, nilai anggaran untuk setiap lokasi tidak akan sama. Besarannya ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan yang sudah disurvei dan divalidasi oleh tim teknis. "Pengerjaannya segera dilakukan setelah perencanaan dan validasi tim teknis selesai," ujarnya di Simpang Empat, Senin.
Proses perencanaan tengah berjalan dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Setelah itu, pengerjaan fisik rehabilitasi langsung dimulai.
Seluruh usulan perbaikan ini merupakan bagian dari Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) yang telah diajukan ke pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi. Harmen menyebut, kerusakan terjadi setelah bencana alam akhir November 2025 yang merusak bendungan dan saluran irigasi.
"Akibat daerah irigasi itu mengalami kerusakan, pasokan atau ketersediaan air untuk lahan persawahan terganggu," katanya.
Dengan adanya perbaikan ini, Harmen berharap pasokan air ke sawah-sawah petani bisa kembali normal. "Mudah-mudahan dengan adanya rehabilitasi ini maka nantinya pasokan air kembali lancar untuk mendukung ketahanan pangan," ujarnya.
Selain mengandalkan dana TKD, Dinas PUPR juga mengusulkan anggaran tambahan ke Balai Sungai Wilayah V. Anggaran dari APBD digunakan untuk operasional rutin pemeliharaan.
Harmen mengakui, dari total anggaran yang tersedia, belum semua jaringan irigasi yang rusak bisa diperbaiki. Pihaknya terus berharap ada tambahan anggaran dari berbagai sumber agar seluruh daerah irigasi yang terdampak bencana dapat segera pulih. "Untuk itu kami berharap butuh anggaran lainnya agar daerah irigasi yang rusak bisa diperbaiki dengan cepat," harapnya.