PADANG — Kota Padang menjadi satu dari tiga kota di Indonesia yang diprakirakan BMKG mengalami gangguan jarak pandang akibat fenomena asap kabut pada Kamis. Dua kota lainnya yang masuk kategori serupa adalah Pekanbaru dan Merauke, yang diperkirakan mengalami udara kabur.
Prakirawan BMKG Ranika Dwi A menjelaskan, dinamika atmosfer saat ini dipengaruhi oleh terbentuknya daerah perlambatan angin (konvergensi) di sejumlah wilayah. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah yang dilalui.
Dalam rilis resmi BMKG yang diikuti dari Jakarta, Kamis, asap kabut (smog) di Padang berbeda dengan udara kabur (haze) yang diprakirakan terjadi di Pekanbaru dan Merauke. Asap kabut umumnya mengandung partikel polutan yang lebih pekat dan bisa berdampak langsung pada kesehatan pernapasan warga.
Sementara itu, untuk wilayah lain di Sumatera seperti Banda Aceh, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Pangkal Pinang, BMKG memprakirakan cuaca cerah berawan hingga berawan tebal tanpa gangguan kabut.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan ringan di sejumlah kota, termasuk Medan, Tanjung Pinang, Pontianak, Tanjung Selor, Banjarmasin, Mamuju, Palu, Manokwari, dan Nabire. Hujan diprakirakan terjadi akibat pertemuan angin (konfluensi) yang terpantau di beberapa titik, seperti Selat Malaka bagian utara hingga Samudra Pasifik.
“Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah yang dilalui,” ujar Ranika Dwi A dalam siaran resminya.
BMKG mengimbau masyarakat Kota Padang untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG. Langkah ini penting guna mengantisipasi potensi perubahan kondisi cuaca, terutama jika asap kabut mulai mengganggu aktivitas harian dan jarak pandang di jalan raya.
Bagi warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan, BMKG menyarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan jika asap kabut mulai terlihat pekat.