Longsor Lembah Anai Kembali Putus Jalur Padang-Bukittinggi, Jalan Tol Sicincin Dinilai Kunci Antisipasi Bencana

Penulis: Fadhli Usman  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 19:49:31 WIB
Longsor kembali menutup badan jalan di Kilometer 66+700 Lembah Anai, Padang menuju Bukittinggi, Kamis (30/7) malam.

PADANG — Rencana pembangunan Jalan Tol Bukittinggi–Padang Panjang–Sicincin oleh PT Hutama Karya mendapat tekanan baru setelah longsor kembali melumpuhkan akses utama Padang menuju Bukittinggi di kawasan Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar, Kamis (30/7) malam lalu. Material tanah menutupi badan jalan di Kilometer 66+700, mengulang kejadian serupa yang kerap terjadi di titik rawan tersebut.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pengusaha Rental Kendaraan Indonesia (DPD Aspera) Sumatera Barat, Rino Zulyadi, menilai proyek tol ini sudah sangat urgen. Menurutnya, setiap kali longsor terjadi, aktivitas distribusi logistik dan mobilitas wisatawan langsung terhenti total.

"Harapannya tentu pembangunan tol bisa segera terealisasi. Apalagi kami dengar tahapan pembangunan jalan tol Bukittinggi-Padang Panjang-Sicincin yang dilaksanakan PT Hutama Karya segera dilakukan. Warga Sumbar pastinya akan sangat mendukung," ungkapnya, Sabtu (1/8).

Terowongan Jadi Andalan Koridor Alternatif

Kementerian Pekerjaan Umum menilai pengembangan ruas tol ini sebagai kebutuhan strategis, tidak hanya untuk mengurai kepadatan lalu lintas harian. Kehadirannya juga menjadi koridor evakuasi yang lebih andal saat jalur Lembah Anai kembali tertimbun material longsor.

Rencana teknis proyek mencakup pembangunan terowongan (tunnel) sebagai solusi atas kondisi geografis perbukitan yang curam. Dengan begitu, keandalan jaringan transportasi diharapkan meningkat, sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur Sumbar terhadap risiko bencana di masa mendatang.

Waktu Tempuh Padang-Bukittinggi Dipangkas hingga Separuh

Pengusaha SPBU asal Kota Padang, Khadafi, menyebut dampak ekonomi dari kehadiran tol ini akan langsung terasa. Ia mencontohkan, jalur darat Padang–Bukittinggi yang saat ini memakan waktu hingga tiga jam bisa dipangkas maksimal menjadi 1–1,5 jam saja.

"Dengan adanya tol pasti akan menghemat jarak tempuh. Padang-Bukittinggi selama ini memakan waktu sampai 3 jam, dengan adanya tol maksimal bisa ditempuh antara 1 sampai 1,5 jam, tentu sangat hemat waktu. Semoga semuanya bisa terealisasi demi kemajuan Sumbar," sebutnya.

Menurut Khadafi, pemerataan pembangunan juga akan berdampak pada distribusi bahan bakar minyak (BBM). Daerah-daerah yang selama ini rawan terisolasi akibat longsor akan lebih mudah dijangkau, sehingga pasokan energi tidak lagi bergantung penuh pada kondisi cuaca dan tebing.

Jalur Tol Trans Sumatera Kian Dekat Terwujud

Rino Zulyadi menambahkan, selesainya ruas Bukittinggi–Padang Panjang–Sicincin menjadi mata rantai penting bagi skema besar Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Konektivitas dari Sumbar menuju Sumatera Utara, Riau, hingga Jambi akan terbuka lebih lebar.

"Hadirnya jalan tol juga menjadi bukti nyata pemerataan pembangunan sekaligus untuk mendukung kelancaran aktivitas masyarakat. Apalagi jika nanti hadirnya tol di Sumbar ini, membuat jalur tol trans Sumatera (JTTS) bisa segera terealisasi sehingga akses dari Sumbar kemana-mana seperti ke Sumatera Utara, Riau, Jambi semakin mudah dan cepat," jelasnya.

Soal Penolakan Warga, Sosialisasi Jadi Kunci

Meski mayoritas pelaku usaha mendukung, Rino mengakui masih ada resistensi dari sebagian masyarakat terkait pembebasan lahan dan dampak konstruksi. Ia berharap semua pihak duduk bersama mencari solusi yang saling menguntungkan.

"Pastinya tidak ada warga di sini yang menolak pembangunan. Sosialisasi dan win win solution, tentu menjadi kunci agar semua masalah bisa teratasi, termasuk meredam ego masyarakat yang menolak hadirnya infrastruktur jalan tol ini," tutur Rino.

Reporter: Fadhli Usman
Sumber: katakabar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top