SAWAHLUNTO — SPPG Santua Barangin yang berlokasi di Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Sawahlunto kini beroperasi dengan standar lebih ketat. Kepala SPPG Santua Barangin, Kevin Adrian, menyebut pembenahan difokuskan pada sarana dapur dan pendukung produksi agar proses pengolahan hingga distribusi lebih efektif serta memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
Peningkatan standar ini bukan tanpa alasan. Pihaknya mendapat arahan langsung dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperkuat kepatuhan terhadap prosedur operasional penyelenggaraan Program MBG. Hasilnya, pengolahan makanan kini ditangani chef bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang didampingi tenaga ahli gizi.
Keamanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab internal dapur. Tim Dokkes Polres Sawahlunto dan Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto secara berkala memantau setiap tahapan, mulai dari pemeriksaan kualitas bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
Kapolres Sawahlunto AKBP Simon Yana Putra menegaskan pendampingan rutin ini dilakukan untuk memitigasi risiko keamanan pangan. "Langkah tersebut dilakukan untuk memitigasi risiko keamanan pangan dan memastikan makanan yang diterima peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan," ujarnya.
Selain urusan dapur, SPPG Santua Barangin juga menyesuaikan penyaluran program dengan kriteria penerima yang ditetapkan BGN. Tujuannya agar bantuan semakin tepat sasaran. Evaluasi dilakukan berdasarkan kondisi sosial ekonomi, salah satunya dengan mengeluarkan peserta didik di sekolah swasta yang kemampuan ekonomi keluarganya dinilai mencukupi dari daftar prioritas penerima manfaat.
Saat ini, SPPG Santua Barangin melayani 3.307 penerima manfaat. Rinciannya, 2.977 peserta didik dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, serta 330 ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dari empat posyandu di wilayah layanan.
Untuk menjaga kualitas bahan baku, SPPG Santua Barangin memperluas kemitraan dengan UMKM lokal. Jumlah pemasok meningkat dari tujuh menjadi 10 mitra yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan pangan, kebersihan, dan kapasitas pasok.
Meski demikian, tidak semua kebutuhan pangan bisa dipenuhi dari dalam kota. Sebagian buah dan sayuran yang belum tersedia atau belum memenuhi standar di Sawahlunto untuk sementara dipasok dari luar daerah. Kebijakan ini diambil untuk menjaga mutu serta kesinambungan penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis di wilayah tersebut.