PADANG — Rancangan ulang Jembatan Kalawi di Limau Manis menjadi titik krusial pemulihan infrastruktur pascabanjir yang melanda Kota Padang. Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Golkar, Zigo Rolanda, mengungkapkan perubahan paling signifikan terletak pada elevasi bangunan yang dinaikkan sekitar dua meter dari desain semula.
"Awalnya sudah ada rancangan pembangunan Jembatan Kalawi. Tetapi setelah banjir, desain harus ditinjau kembali. Salah satu perubahan penting adalah menaikkan elevasi jembatan sekitar dua meter agar lebih aman," kata Zigo saat menggelar reses di Kelurahan Limau Manis, Rabu (5/8/2026).
Jembatan baru ini dirancang dengan bentang 70 meter dan konstruksi rangka baja kelas B selebar enam meter. Selain bangunan utama, pemerintah menyiapkan paket pekerjaan pendukung berupa normalisasi sungai, pengaman tebing, serta pembebasan lahan seluas 448 meter persegi.
Zigo menjelaskan, seluruh tahapan perencanaan mulai dari survei hingga kajian teknis telah rampung. Ia menegaskan, masuknya proyek ini ke pagu indikatif Kementerian PU merupakan capaian yang jarang terjadi karena biasanya sebuah proyek harus melalui perjuangan panjang.
"Tinggal pendalaman pembahasan anggaran. Kalau seluruh proses berjalan sesuai jadwal, pekerjaan fisik bisa dimulai pada Februari dan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar 10 bulan," ujarnya.
Zigo mengapresiasi warga Limau Manis yang bersedia menghibahkan sebagian lahannya demi kelancaran proyek. Menurutnya, kontribusi warga itu layak mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota Padang.
Di luar Jembatan Kalawi, Komisi V DPR RI turut mengawal penanganan banjir di Air Dingin, Batang Maransi, hingga Surau Gadang. Berdasarkan kajian Balai Wilayah Sungai (BWS), volume sedimentasi yang harus dikeruk mencapai lebih dari 2 juta meter kubik, sehingga pengerjaannya dilakukan bertahap dari bagian hulu.
"Ini merupakan hasil kajian teknis para ahli. Penanganan dimulai dari hulu agar material tidak terus terbawa ke hilir dan pekerjaan menjadi lebih efektif," katanya.
Rehabilitasi Daerah Irigasi Gunung Nago dan Daerah Irigasi Koto Tuo dijadwalkan bergulir pada Agustus. Sementara pembangunan Jembatan Surau Gadang akan didahului pengendalian banjir agar infrastruktur yang dibangun lebih aman.
Pemerintah menetapkan anggaran sekitar Rp 17,8 triliun untuk pemulihan infrastruktur pascabencana di Sumatera Barat hingga 2029. Zigo meminta dukungan masyarakat agar seluruh proses pembangunan berjalan lancar.
"Infrastruktur yang dibangun ini bukan hanya untuk memulihkan kondisi pascabencana, tetapi juga agar lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan," tutup Zigo.