SIJUNJUNG — Suasana aula terbuka kompleks pendidikan Akhlak Cendekia Muslim di Jalan Cendekia Muslim, Sijunjung, berubah menjadi laboratorium rasa pada Jumat pagi (7/8/2026). Sejak pukul 08.30 WIB, para ustadzah menyiapkan "Meja Petualangan Rasa" berisi empat bahan praktik: bubuk kopi untuk rasa pahit, garam untuk asin, gula pasir untuk manis, dan potongan lemon segar untuk asam.
Metode belajar ini sengaja dipilih untuk memberikan stimulasi sensorik langsung kepada anak usia dini. Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim menilai masa emas atau golden age pada anak usia 2-4 tahun merupakan periode krusial bagi perkembangan sinapsis otak, sehingga pengenalan fungsi organ tubuh tidak cukup hanya melalui buku gambar.
Satu per satu santri dipanggil untuk mencicipi sedikit bahan yang tersedia. Respons yang muncul beragam dan mengundang tawa para pendidik. Sebagian santri langsung menutup mata rapat-rapat saat merasakan pahitnya kopi, sementara yang lain menjulurkan lidah berkali-kali ketika potongan lemon menyentuh pengecap mereka.
Wajah sumringah justru muncul saat butiran gula manis dirasakan. Momen ini menjadi pengalaman konkret bagi anak untuk membedakan sensasi rasa yang nantinya mereka temui dalam makanan sehari-hari di rumah.
Kegiatan Jumat pekan ini memang dikhususkan untuk mengeksplorasi indra pengecap atau lidah. Ustadzah pendamping menjelaskan bahwa pengenalan panca indra mencakup lima aspek, yakni mata untuk penglihatan, telinga untuk pendengaran, hidung untuk penciuman, kulit untuk peraba, dan lidah untuk pengecap.
Ketua Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim menegaskan bahwa fasilitas sekolah dirancang untuk mendukung kegiatan eksploratif semacam ini. Lingkungan yang aman dan nyaman menjadi modal utama bagi para ustadzah untuk berkreasi dengan media pembelajaran yang nyata.
"Kami menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman agar para ustadzah bisa berkreasi dengan media pembelajaran yang nyata. Hari ini mereka belajar tentang lidah, besok mungkin mereka akan mengeksplorasi tekstur melalui indra peraba. Inilah komitmen kami untuk memberikan pendidikan holistik yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan sensorik santri," tegas Ketua Yayasan.
Di balik keseruan eksperimen rasa tersebut, manajemen yayasan menerapkan kebijangan khusus untuk menjaga keseimbangan mental dan fisik anak usia dini. Sesuai SOP internal, santri jenjang Kelompok Bermain (KB) diberikan jadwal libur penuh setiap hari Sabtu.
Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan bahwa anak usia 2-4 tahun membutuhkan waktu istirahat lebih panjang serta kesempatan bonding bersama orang tua di rumah setelah lima hari beraktivitas. Sementara itu, santri TK A tetap memiliki beberapa agenda ringan pada akhir pekan.
"Dengan memberikan libur Sabtu bagi santri KB, kami memastikan mereka tidak mengalami kelelahan yang berlebihan. Kami ingin mereka rindu sekolah, bukan bosan karena sekolah. Stamina yang terjaga membuat mereka selalu antusias saat kembali ke sekolah di hari Senin nanti," tambah perwakilan manajemen yayasan.
Kelancaran kegiatan belajar mengajar di kompleks pendidikan ini juga ditopang oleh perangkat Nagari dan Bapak Jorong Pale setempat. Kondusivitas lingkungan sekitar sekolah disebut turut berperan besar, mengingat suasana Sijunjung yang asri dan tenang memungkinkan santri berkonsentrasi penuh tanpa gangguan kebisingan lalu lintas.
Petualangan rasa diakhiri dengan sesi mencuci mulut menggunakan air putih dan doa bersama sebagai bentuk syukur. Para santri pun pulang membawa cerita baru untuk orang tua mereka di rumah tentang bagaimana rasanya "kopi yang pahit" atau "lemon yang sangat asam".
Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berharap langkah-langkah kecil penuh makna seperti ini mampu melahirkan generasi cendekia dari Sijunjung yang tumbuh dengan pemahaman holistik terhadap tubuh dan lingkungannya.