SUMATERA BARAT — Konsensus ekonom memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada RDG Agustus 2026. Sikap wait and see ini dinilai rasional. Ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Penahanan suku bunga juga mempertimbangkan inflasi domestik yang berada dalam rentang sasaran. Dengan inflasi terkendali, BI memiliki ruang fokus menjaga stabilitas rupiah di tengah kuatnya permintaan dolar AS secara global.
Tekanan Eksternal Jadi Pertimbangan Utama Penahanan Suku Bunga
Para ekonom menilai menjaga selisih imbal hasil (yield) obligasi Indonesia dengan AS tetap menarik adalah kunci menahan arus keluar modal asing. Jika BI menurunkan suku bunga terlalu cepat, daya tarik aset keuangan domestik melemah. Akibatnya, depresiasi rupiah bisa lebih dalam.
"Kami melihat BI akan sangat berhati-hati. Normalisasi kebijakan moneter baru akan dilakukan jika ada kepastian arah suku bunga global, yang kemungkinan besar baru terjadi pada kuartal IV 2026," ujar seorang ekonom yang tergabung dalam konsensus pasar.
Stabilitas Kurs vs Pertumbuhan Ekonomi
Keputusan ini menjadi sinyal bahwa BI memilih stabilitas eksternal dibandingkan stimulus pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi domestik memang masih membutuhkan dorongan. Namun, pelemahan rupiah yang berlarut-larut berisiko meningkatkan biaya impor dan menekan sektor manufaktur.
Bank sentral diperkirakan terus menggunakan instrumen operasi pasar dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga likuiditas. Dengan demikian, suku bunga acuan yang tetap tinggi tidak serta-merta menghentikan aliran dana ke pasar keuangan domestik.
Proyeksi ini sejalan dengan sikap BI yang konsisten mengarahkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas. Keputusan final akan diumumkan setelah RDG berakhir pada Kamis (20/8).
Investasi mengandung risiko.