75 Desainer Tampil di Padang Fashion Summit 2026, Songket Minangkabau Diusung ke Panggung Mode Global

Penulis: Ridwan Azhari  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 15:27:01 WIB
desainer menampilkan karya berbasis songket dan tenun Minangkabau dalam peragaan busana Padang Fashion Summit 2026 di Padang, Sumatera Barat, Minggu (9/8).

PADANG — Padang Fashion Summit 2026 berlangsung meriah di Padang, Sumatera Barat, Minggu (9/8). Ajang ini melibatkan 75 desainer yang menghadirkan karya berbasis wastra Minangkabau, mulai dari songket hingga tenun, dengan sentuhan desain kontemporer yang siap bersaing di industri mode global.

Tema "Manaruko Rupo: From Minangkabau Heritage to Global Elegance" menjadi benang merah seluruh koleksi yang ditampilkan. Para perancang tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menekankan aspek keberlanjutan atau sustainable fashion dalam proses produksinya.

Songket Karya Desainer Mira Muraza dan De Irma Jadi Sorotan

Beberapa karya yang menarik perhatian dalam peragaan busana kali ini datang dari desainer Mira Muraza dan De Irma. Keduanya sukses mengolah songket khas Minangkabau menjadi siluet modern tanpa menghilangkan identitas budayanya.

Model memperagakan busana rancangan mereka di atas catwalk, memperlihatkan detail tenun yang rumit berpadu dengan potongan kekinian. Koleksi ini membuktikan bahwa wastra tradisional bisa dikenakan dalam berbagai kesempatan, bukan hanya acara adat.

Mendorong Wastra Minangkabau ke Pasar Internasional

Padang Fashion Summit 2026 bukan sekadar pergelaran mode tahunan. Acara ini menjadi jembatan bagi para perajin dan desainer lokal untuk memperkenalkan kekayaan tekstil Minangkabau ke mata dunia.

Dengan melibatkan desainer mancanegara, terjadi pertukaran ide dan teknik yang memperkaya khasanah desain lokal. Kolaborasi semacam ini dinilai penting untuk mengangkat pamor songket dan wastra lainnya agar diakui di kancah fashion global.

Prinsip sustainable fashion yang diusung juga menjawab tren industri mode dunia yang semakin peduli pada lingkungan. Penggunaan bahan alami dan pemberdayaan pengrajin lokal menjadi nilai tambah yang tidak bisa ditawar.

Potensi Ekonomi Kreatif di Balik Perhelatan Mode

Perhelatan ini juga menjadi penggerak ekonomi kreatif di Sumatera Barat. Para desainer muda mendapat ruang untuk bereksperimen, sementara perajin tenun di kampung-kampung mendapatkan pesanan baru.

Ke depan, ajang seperti ini diharapkan rutin digelar untuk menjaga ekosistem mode berbasis budaya tetap hidup. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, menjadi kunci agar potensi ini tidak berhenti di satu musim saja.

Reporter: Ridwan Azhari
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top