AGAM — Di tengah seluruh KONI kabupaten/kota se-Sumatera Barat memacu kesiapan atlet menghadapi PORPROV XVI pada Oktober 2026, tubuh KONI Agam justru diguncang turbulensi politik internal. Induk organisasi olahraga di daerah ini terbelah antara desakan teknis penyelamatan atlet dan manuver elite yang ngotot mengamankan kursi ketua baru.
Keputusan Rakerkab yang digelar 10-11 Agustus 2026 di Hotel Axana, Padang, langsung membentuk Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) beranggotakan lima orang. Pendaftaran bakal calon ketua umum dibuka pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Kecepatan yang luar biasa ini justru memantik tanda tanya besar dari pegiat olahraga. Suksesi dipaksakan berjalan di tengah sempitnya ruang napas menuju perhelatan multievent terbesar tingkat provinsi, alih-alih fokus pada pembinaan prestasi atlet.
Manuver kilat tersebut bukan tanpa ganjaran. Jauh sebelum Rakerkab dihelat, proses penjaringan dan penyaringan calon ketua sempat mengalami jalan buntu alias dihentikan paksa sejak pertengahan Juli 2026.
Penghentian itu terjadi akibat karut-marut prosedural yang kasat mata. Teguran keras dari KONI Sumbar menjadi sinyal bahwa langkah KONI Agam dinilai cacat prosedural secara berjemaah.
Alih-alih mengerahkan energi untuk mengerek prestasi, KONI Agam justru terseret pusaran politik internal yang akut. Jangankan menjaga marwah pembinaan prestasi, tubuh organisasi tampak terbelah di saat atlet membutuhkan dukungan penuh.
Batas akhir kepengurusan lama yang bakal kedaluwarsa pada 31 Agustus 2026 membuat jadwal Musorkab 26 Agustus 2026 menjadi sangat mepet. Desakan teknis penyelamatan atlet kian mendesak, namun aroma syahwat kekuasaan justru pekat menguasai lingkaran elite organisasi.
Persiapan menuju PORPROV XVI Sumbar membutuhkan konsentrasi penuh dari pengurus. Dengan adanya perpecahan internal, pembinaan atlet berpotensi terabaikan pada momen krusial menjelang kompetisi.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pengurus KONI Agam terkait polemik jadwal Musorkab yang dipaksakan tersebut. Publik olahraga Agam menunggu kejelasan apakah kepentingan atlet tetap menjadi prioritas utama atau justru dikorbankan demi ambisi segelintir elite.