MENTAWAI — JEMARI Sakato Sumatera Barat bersama Arbeiter Samariter Bund (ASB) Indonesia menggelar pelatihan peningkatan kapasitas Kelompok Siaga Bencana (KSB) di Desa Matobe dan Sido Makmur, Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pelatihan berlangsung selama empat hari, Selasa hingga Jumat, 11–14 tahun 2026.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Camat Sipora Selatan Amir, perwakilan BPBD Kepulauan Mentawai Taufiqa Hardi, serta Sandang Simanjuntak dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).
Program yang didanai BMZ Jerman melalui ASB South-South East Asia ini telah berjalan beberapa tahun terakhir. Fokusnya mencakup pengembangan sosial-ekonomi, pengurangan risiko bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim, dan inklusi sosial di empat desa dampingan: Sipora Jaya, Sido Makmur, Matobe, dan Sioban.
Wilayah Kepulauan Mentawai sendiri dikenal rawan gempa bumi, tsunami, banjir, abrasi pantai, dan cuaca ekstrem. Kondisi geografis kepulauan dengan keterbatasan akses transportasi dan jarak antarwilayah menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan bencana di tingkat masyarakat.
DRC CCA Officer JEMARI Sakato, Lugi Mardion Putra, menegaskan bahwa efektivitas Disaster Preparedness Team (DPT) sangat dipengaruhi oleh kapasitas anggotanya. Ia menyoroti keterlibatan perempuan dan penyandang disabilitas yang selama ini masih menghadapi hambatan dalam berpartisipasi aktif pada upaya pengurangan risiko bencana.
"PRB yang efektif harus mengedepankan prinsip inklusif, yaitu memastikan seluruh kelompok masyarakat memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan, pengambilan keputusan, maupun pelaksanaan kegiatan kebencanaan," jelasnya.
"Dalam kegiatan ini, pelibatan perempuan dan penyandang disabilitas tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam membangun ketangguhan masyarakat," tambah Lugi.
Pelatihan ini mencakup pemahaman konsep dasar manajemen bencana, peran dan fungsi DPT, kepemimpinan, koordinasi, komunikasi, serta penerapan prinsip inklusi. Peserta juga mengikuti Uji Meja (Table Top Exercise/TTX) untuk menguji aktivasi peringatan dini dan mekanisme evakuasi.
Pada sesi akhir, digelar simulasi atau Emergency Drill. Kegiatan ini dirancang untuk menguji kemampuan peserta dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh ke kondisi yang menyerupai situasi bencana nyata, termasuk prosedur evakuasi, penyelamatan, dan penanganan kelompok rentan.
Pelatihan ini menargetkan peningkatan kapasitas anggota KSB dalam koordinasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan saat situasi darurat. Hasil yang diharapkan adalah meningkatnya komitmen perempuan dan penyandang disabilitas untuk berperan aktif di dalam DPT.
JEMARI Sakato berharap mekanisme kesiapsiagaan dan respons bencana berbasis masyarakat di desa dampingan menjadi lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.