BUKITTINGGI — Universitas Fort De Kock (UFDK) Bukittinggi memperluas peran sebagai mediator layanan kesehatan internasional. Kampus ini meluncurkan kantor penghubung yang memudahkan pasien asal Sumatera Barat dan Riau mengakses pengobatan di Putra Specialist Hospital Melaka, Malaysia.
Peresmian Pusat Kolaborasi itu dilakukan Jumat (14/8) bersama CEO Putra Specialist Hospital Melaka, Gubernur Sumbar, serta pimpinan Yayasan Fort De Kock dan civitas akademika UFDK.
Rektor UFDK, Evi Hasnita, mengatakan kantor penghubung ini dirancang untuk memberikan kemudahan penuh bagi pasien. Proses penjadwalan dilakukan secara digital, kemudian pasien dijemput setibanya di Bandara KLIA dan langsung diarahkan menuju rumah sakit.
"Di kantor penghubung ini, pasien atau masyarakat akan dibantu secara sistem digital mulai dari proses penjadwalan, kemudian dijemput setibanya di Melaka untuk langsung diarahkan menuju Putra Specialist dengan fasilitas pelayanan yang memuaskan," kata Evi Hasnita.
CEO Putra Specialist Hospital Melaka, Mohd. Zahiruddin Bin Datuk Seri Ahmad, menambahkan bahwa prioritas utama rumah sakit adalah pelayanan kepada pasien dan keluarganya. Pihak rumah sakit juga memfasilitasi keluarga pasien dengan memperkenalkan tempat wisata, tempat makan, hingga menyediakan akomodasi hotel di dalam paket yang masuk.
Kerjasama ini tidak hanya untuk layanan pasien, tetapi juga membuka peluang praktik bagi mahasiswa. Evi Hasnita menyebutkan bahwa mahasiswa atau tenaga kesehatan UFDK yang telah diuji kompetensinya mendapatkan keistimewaan untuk melakukan intervensi langsung ke pasien.
"Salah satu keunggulan UFDK, mahasiswa atau tenaga kesehatan kami yang telah diuji kompetensinya, mendapatkan keistimewaan untuk diizinkan melakukan intervensi langsung ke pasien, berbeda dengan mahasiswa dari institusi lain pada umumnya," katanya.
Sebelumnya, Putra Specialist Hospital Melaka telah menerima sekitar 20 mahasiswa UFDK dalam satu masa untuk menjalankan latihan di lapangan. Bidang yang dicakup meliputi kesehatan, medical records, dan pelayanan.
Selain Putra Specialist Hospital Melaka, UFDK juga memperluas kerjasama dengan sejumlah institusi terkemuka di Kuala Lumpur, Malaysia. Beberapa di antaranya adalah UNIZA, UKM, KPJ, dan UCSI.
Evi Hasnita menjelaskan bahwa kerjasama ini membuka peluang besar untuk menerapkan kegiatan Tridharma perguruan tinggi, khususnya riset kolaborasi dan pengabdian masyarakat. Hal ini juga membuka wawasan global bagi civitas akademika bahwa peluang kerja di luar negeri sangat luas.
"Selain tentu membuka wawasan global bagi civitas akademika di Sumatra Barat bahwa peluang kerja amat luas, di mana lulusan difasilitasi dengan baik untuk dapat berkarier di sana," ujarnya.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menyambut baik kolaborasi ini dan berharap dapat menjadi percontohan bagi lembaga pendidikan serta institusi lainnya di Sumatera Barat.
"Pemprov menyambut baik kolaborasi ini, mudah-mudahan diikuti oleh kampus, rumah sakit dan lembaga lainnya. Sukses untuk UFDK dan Putra Specialit Melaka. Kita negara satu rumpun, semoga jalinan kerjasama di bidang lainnya juga semakin ditingkatkan," kata Mahyeldi.
Zahiruddin menegaskan bahwa hubungan erat antara Malaysia dan Indonesia, khususnya Sumatera Barat dan Riau, memberikan kemudahan dari segi bahasa yang mudah dipahami serta kesamaan budaya dan makanan. Hal ini menjadi nilai tambah bagi pasien yang ingin berobat ke Malaysia.